sign up SIGN UP search


parenting

Saat di Rumah Aja, Apakah Anak Tunggal Lebih Fokus Belajarnya?

Melly Febrida Kamis, 30 Apr 2020 11:52 WIB
Saat di Rumah Aja, Apakah Anak Tunggal Lebih Fokus Belajarnya? caption
Jakarta - Saat harus di rumah saja, orang tua yang punya anak lebih dari satu mungkin butuh tenaga ekstra. Apalagi kalau semuanya sekolah atau salah satunya masih balita.

Yang besar butuh bimbingan saat home learning, sedangkan yang lain heboh minta diperhatikan juga. Belum lagi kalau mereka bertengkar. Aduh, bikin pusing...


Dikatakan Emily Oster, profesor ekonomi di Brown University dan penulis "Expecting Better" dan "Cribsheet, pandemi Corona ini membuat banyak orang tua kebingungan, sehingga memunculkan pertanyaan, 'Berapa jumlah anak yang tepat untuk keluarga saya?'


"Saya bukan satu-satunya orang tua yang mengapresiasi nilai saudara kandung, tetapi saya juga bukan satu-satunya yang melihat kelemahan. Saya bisa lebih fokus pada tujuan home learning jika saya hanya mengajar satu anak. Di sisi lain, memiliki dua anak memastikan setidaknya bersosialisasi," kata Oster, mengutip NYTimes.

Meski begitu, dikatakan Oster, karantina atau tidak, memiliki saudara kandung membuat anak berkembang dan mendapat pengalaman. Lantas, apakah ini baik atau buruk? Secara historis, para ahli terbagi ke dalam dua kubu tentang nilai saudara kandung.

Oster memaparkan, beberapa ahli menilai, keluarga besar berarti lebih sedikit sumber daya untuk investasi pada setiap anak, yang menghabiskan waktu atau uang untuk pendidikan atau les-les lainnya.

"Ya, beginilah cara ekonom berbicara tentang pengasuhan anak; tidak ada yang pernah menuduh kami hangat dan tidak jelas. Seperti yang kita lihat, lebih banyak anak berarti lebih sedikit waktu dan uang agar fokus dengan masing-masing," kata Oster.

Home learningHome learning/ Foto: Getty Images/Phynart Studio
Pendapat ahli lain, jadi anak tunggal bisa menghambat perkembangan sosial. Menurut ide ini, anak tunggal itu antisosial, canggung, bahkan aneh.

"Jika Anda tidak memberi anak Anda saudara kandung, mereka ditakdirkan untuk terisolasi secara sosial," katanya.

Tapi menurut Oster, sebagian besar menolak pendapat tentang anak tunggal selama beberapa dekade. Dalam sebuah artikel pada 1987 silam, yang merangkum 140 studi, menemukan lebih beberapa bukti bahwa anak tunggal mendapat lebih banyak 'motivasi akademik', tetapi tidak ada perbedaan pada sifat-sifat kepribadian seperti ekstroversi.

"Dengan kata lain, meskipun Anda mungkin mengharapkan teman bermain membuat anak lebih bersosialisasi, data tidak mendukung hal itu," jelas Oster.

Studi lain telah melihat anak-anak di China, yakni kebijakan satu anak, secara efektif menciptakan generasi anak tanpa saudara kandung. Dan sulit melihat perbedaan kepribadian antara yang memiliki saudara dan anak tunggal, dalam hal-hal seperti ekstroversi apabila dibandingkan.

Satu hal yang ditunjukkan dalam literatur ini, menurut Oster, urutan kelahiran itu penting. Anak-anak pertama yang lahir, terlepas dari apakah mereka memiliki saudara kandung atau tidak, memiliki kinerja yang sedikit lebih baik dalam tes I.Q, bisa sekolah dan mendapat penghasilan lebih tinggi di kemudian hari.

"Mereka juga mendapat skor lebih tinggi pada ukuran kepribadian dari motivasi akademik, daripada anak-anak yang lahir kemudian. Tidak jelas mengapa ini terjadi, meskipun satu alasan mungkin adalah jumlah waktu yang orang tua berikan untuk anak sejak dini. Misalnya, lebih banyak waktu membaca atau berbicara dengan anak Anda mendorong perkembangan bahasa," tutur Oster.


Berbicara anak tunggal, menurut psikolog anak dan remaja dari RaQQi - Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi, anak tunggal tidak terbiasa dengan adanya sibling rivalry. Sehingga, anak tak terbiasa terbagi karena memang orang tuanya cuma fokus ke dia saja.

"Sudah semestinya orang tua memberi segala sesuatu kepada anak sesuai dengan kebutuhan anak, tapi tidak semua yang diinginkan anak harus dituruti. Sebab, menjadi anak tunggal tak menutup kemungkinan anak bisa merasa akan selalu dimanja oleh orang tuanya," tutur Ratih, dikutip dari detikcom.

Bunda, simak juga cerita Mona Ratuliu yang merasa beruntung menikah muda dan kini punya tiga anak. Di video Intimate Interview berikut ini:

[Gambas:Video Haibunda]

(muf/muf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi