sign up SIGN UP search


parenting

Pentingnya Menahan Ucapan Buruk Saat Marah, Bisa Jadi Doa untuk Anak

Melly Febrida Selasa, 13 Oct 2020 14:33 WIB
Mother and daughter on Hari Raya Aidilfitri/ Eid-Ul-Fitr in Malaysia. caption

Bagi orang tua, mendoakan anak adalah hal yang bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Doa-doa terbaik dipanjatkan untuk kebaikan anak-anaknya. Kebiasaan ini juga selalu dilakukan Nabi Muhammad SAW untuk anak-anaknya.

Jamaal ‘Abdur Rahman dalam buku Tahapan Mendidik Anak, mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW saja saat hendak bepergian mendoakan anak-anaknya.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan dalam perjalanan, kemurungan dalam penampilan, dan keburukan saat kembali berkenaan dengan harta, keluarga, dan anak-anak.” (Muslim, Kitabul Hajj 2392 dan Ash-habus Sunan).


Jamaal menjelaskan Nabi Muhammad SAW menginginkan agar harta benda, keluarga, atau anak-anak tidak tertimpa kesedihan berkenaan saat pulang dari perjalanan. Karena itu, Nabi Muhammad SAW berdoa kepada Allah agar tidak ada satupun yang menimpanya.

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al Mukmin (40): 60).

Namun, ketika mendoakan anak, jangan sampai keluar kata-kata yang buruk, Bunda. Terutama saat marah, berhati-hatilah dalam berkata-kata. Tak ada yang tak mungkin ucapan tersebut menjadi doa untuk anak.

Jabir Ibmu Abdullah Ra, telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda, “Janganlah kalian mendoakan kebinasaan terhadap diri kalian, janganlah kalian mendoakan kebinasaan terhadap anak-anak kalian, janganlah kalian mendoakan kebinasaan terhadap pelayan kalian, dan jangan pula kalian mendoakan kemusnahan terhadap harta benda kalian agar jangan sampai kalian menjumpai suatu saat Allah yang di dalamnya semua permintaan diberi, kemudian (doa) kalian diperkenankan.” (Muslim Kitabuz Zuhd Raqaaiq 5328 dan Abu Dawud, Kitabush Shalat 1309).

Jamaal mengatakan adakalanya Ayah atau Bunda yang terganggu dengan ulang anaknya malah mendoakan keburukan untuk anaknya. Ini sangat berbahaya karena doa tersebut bisa saja dikabulkan.

“Ada tiga macam doa yang tidak diragukan lagi pasti diterima, yaitu doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir, dan doa orang tua kepada anaknya.” (Tirmidzi, Kitabul Birri Wash Shilah 1828).

Misalnya saja, semula keluarganya mengira anaknya nakal dan tak mau mengubah sikapnya, yang ada anak malah bertambah nakal. Orang tua lupa bahwa ini sebenarnya sudah mendoakan anaknya sehingga anaknya bertambah nakal dan tidak terobati lagi.

“Dalam keadaan seperti ini, orang tua harus berdoa lagi untuk kebaikan sang anak guna menghapus doa semula yang berisi permohonan keburukan terhadapnya,” ujar Jamaal.

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Dan tiada yang dapat menolak taqdir, kecuali hanya doa (Ibnu Majah, Kitabul Muqaddimah hlm.87).

Sementara itu, mengenai orang tua yang harus menjaga ucapannya di depan anak-anak. Psikolog klinis Melanie Greenberg mengatakan, kalau anak berbuat salah, yang perlu Bunda lakukan hanya menyoroti perilakunya, bukan sang anak. Ini memang enggak mudah, tapi tak ada salahnya jika Bunda mulai berlatih lebih hati-hati dalam pemilihan kata saat berbicara pada anak.

"Rasa malu dan penghinaan menyebabkan ketakutan pada anak-anak. Ketakutan ini tidak hilang ketika mereka dewasa. Hal tersebut menjadi rintangan dalam kehidupan emosional yang sehat dan sulit dihilangkan," kata terapis keluarga Karyl McBride, dilansir Smart Parenting.

Bunda, simak juga yuk dari Ririn Dwi Aryanti cara mengendalikan emosi anak dalam video di bawah ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi