sign up SIGN UP search


parenting

Skor Tes IQ Tinggi Ternyata Tak Jamin Kesuksesan Anak di Masa Depan

Melly Febrida Rabu, 11 Nov 2020 12:02 WIB
Five years old boy drawing at the psychotherapy session. caption

Jakarta - Sekolah biasanya mengadakan tes IQ untuk murid-muridnya. Jangan kaget kalau skor IQ anak akan berubah saat dites kembali ketika dewasa, karena hal itu memang bisa berubah seiring waktu. Perlu Bunda tahu juga bahwa nilai IQ ini tidak bisa memprediksi kesuksesan anak dengan sempurna di berbagai bidang. 

IQ atau intelligence quotient merupakan skor kemampuan mental relatif terhadap teman sebaya.  Albert Einsten yang terkenal sebagai manusia paling cerdas di muka bumi memiliki IQ 160. Normalnya, skor IQ rata-rata itu 100. 


Robert McCall, psikolog di Kantor Perkembangan Anak Universitas Pittsburgh mengatakan bahwa kebanyakan orang memiliki IQ tetap relatif stabil. Tapi tapi bagi sebagian orang, IQ dapat berubah sangat substansial seiring waktu.

"Itu belum tentu membaik. Itu tergantung pada pengalaman Anda, lingkungan tempat Anda tinggal, orang tua Anda dan orang penting lainnya, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan Anda, peluang Anda," kata McCall dikutip LiveScience.

Menurutnya, IQ merupakan prediksi kesuksesan di sekolah dan pada tingkat yang lebih rendah, kesuksesan di dunia kerja. Tapi, tes IQ ini bukan mengukur setiap jenis kecerdasan dengan cara yang murni obyektif, tetapi karena tes itu bias. Cenderung menghargai pemikiran abstrak verbal dan berbagai pengetahuan tertentu.

"Biasanya ada di seluruh sistem," kata McCall.



Kalaupun skor tes IQ anak tidak tinggi, Bunda jangan terlalu mengkhawatirkannya.  Nilai tes IQ tidak dapat memprediksi kesuksesan seseorang di berbagai bidang kehidupan seseorang. Sukses itu tergantung pada berbagai faktor, termasuk stabilitas emosi, motivasi, dan akal sehat.

"Ada banyak orang sukses yang tidak memiliki IQ tinggi, dan ada banyak orang dengan IQ tinggi yang tidak terlalu sukses," kata Robert Sternberg, seorang profesor perkembangan manusia di Cornell University.  

Beberapa peneliti, termasuk Jack Naglieri, seorang profesor di Universitas Virginia dan seorang ilmuwan peneliti senior di Devereux Center for Resilient Children, telah menyerukan agar IQ dihapuskan.

Dia dan rekan-rekannya juga sudah mengembangkan sistem penilaian kognitif, yang menguji orang-orang pada masalah yang tidak berbasis pengetahuan tetapi juga membutuhkan kemampuan kognitif.  Idenya adalah untuk menguji hal-hal seperti seberapa baik seseorang memperhatikan  atau alasan melalui masalah, daripada seberapa banyak pengalaman matematika atau kosakata yang mereka miliki.

"Seseorang bisa jadi pintar dan tidak berpengetahuan," kata Naglieri.

Sejak penemuannya, tes IQ telah menjadi perdebatan antara yang  mendukung dan menentang penggunaannya.  Kedua belah pihak berfokus pada komunitas yang telah terkena dampak negatif di masa lalu dengan menggunakan tes kecerdasan.

Dikutip dari The Conversation,  Daphne Martschenko, kandidat PhD di University of Cambridge mengatakan bahwa dalam pendidikan, tes IQ mungkin merupakan cara yang lebih obyektif untuk mengidentifikasi anak-anak dalam meraih manfaat dari layanan pendidikan khusus.  


Ini termasuk program yang dikenal sebagai pendidikan berbakat untuk siswa yang telah diidentifikasi sebagai sangat atau sangat mampu secara kognitif.  

"Tes IQ juga dapat membantu mengidentifikasi ketidaksetaraan struktural yang memengaruhi perkembangan anak.  Ini dapat mencakup dampak paparan zat berbahaya di lingkungan seperti timbal dan arsenik atau efek malnutrisi pada kesehatan otak.  Semua ini telah terbukti berdampak negatif pada kemampuan mental individu dan secara tidak proporsional memengaruhi komunitas berpenghasilan rendah dan etnis minoritas," jelas Martschenko.

Bunda, simak yuk upaya untuk membuat anak cerdasa dalam video berikut ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi