sign up SIGN UP search


parenting

Sejarah Penjajahan di Indonesia yang Bisa Bunda Ceritakan ke Anak

Annisa Karnesyia Selasa, 08 Jun 2021 16:37 WIB
Ilustrasi merdeka caption
Jakarta -

Bunda sudah bisa mengenalkan sejarah Indonesia pada anak sedini mungkin ya. Di sekolah, pelajaran tentang sejarah biasanya mulai dikenalkan ketika anak duduk di bangku kelas 3 sampai 5 SD.

Selain di sekolah, pelajaran sejarah sebenarnya bisa kita ceritakan ke anak melalui dialog ringan di rumah. Menurut Hilary Cooper dalam tulisan berjudul History in Primary School, yang dipublikasikan di Institute of Historical Research (IHR), dialog tentang sejarah sudah bisa dimulai ketika anak berusia tiga tahun.

"Dialog semacam ini penting untuk perkembangan psikologis dan sosial, serta untuk pemahaman tentang sejarah," kata Cooper, dilansir Core.


Anak-anak mungkin merasa sulit untuk ikut dalam dialog tentang sejarah karena belum dewasa dan terbatasnya pengetahuan mereka. Namun, kita perlu mendengarkan pendapat anak dan yang terpenting adalah mempelajari prosesnya.

Dalam tinjauan penelitian tahun 2002, Cooper menyimpulkan bahwa anak-anak berusia 3-5 tahun memiliki beberapa kapasitas 'embrionik' untuk memikirkan sejarah. Mereka memiliki kesadaran akan waktu dan dapat mengenali interpretasi cerita yang berbeda, serta mampu menalar secara deduktif dalam situasi informal.

Ada baiknya Ayah dan Bunda memang mengenali dulu kemampuan anak untuk merespons cerita ya. Sejarah bukanlah hal mudah untuk diceritakan ke anak seperti membacakan dongeng.

Sebagai permulaan, Bunda bisa menceritakan sejarah tentang Negara Indonesia yang merdeka dari penjajahan. Kisah ini tidak perlu dijelaskan secara terperinci, yang penting anak menangkap maksud cerita.

Melalui sejarah penjajahan di Indonesia ini, si Kecil akan belajar semangat seperti yang dilakukan para pahlawan bangsa merebut kemerdekaan. Selain itu, anak juga akan mengetahui berbagai istilah baru, Bunda.

Melansir dari buku Sejarah Nasional Indonesia: Masa Prasejarah Sampai Masa Proklamasi Kemerdekaan oleh M.Junaedi Al Anshori, berikut sejarah penjajahan di Indonesia yang bisa Bunda ceritakan ke anak:

1. Penjajahan bangsa Portugis dan Spanyol

Bangsa Portugis, sebagai Bangsa Eropa datang ke Indonesia dengan tiga tujuan, yakni emas, kemenangan, dan menyebarkan ajaran agama. Mereka datang untuk mendapatkan rempah-rempah dan menyebarkan agama Katolik di Indonesia.

Kedatangan Bangsa Portugis bermula pada tahun 1511 saat pelaut Portugis bernama Alfonsi d'Albuquerque sampai di Selat Malaka. Dalam waktu singkat, Portugis mampu menguasai pusat perdagangan di Selat Malaka itu.

Portugis lalu mengirimkan misi militernya ke Maluku di bawah pimpinan Antoio d'Abreu dengan tujuan mendapatkan hak-hak monopoli dan perdagangan rempah-rempah. Namun, karena dianggap sombong, Bangsa Portugis diusir dari Maluku oleh Sultan Baabullah.

2. Penjajahan Belanda di Indonesia

Penjajahan Belanda di Indonesia berlangsung selama 350 tahun atau 3,5 abad lamanya. Pada tahun 1596, bangsa Belanda pertama kali mendarat di wilayah Banten, Indonesia, di bawah kepemimpinan Cornelis de Houtman.

Tujuan Belanda datang yakni untuk berdagang dan mendapatkan rempah-rempah dengan harga murah. Namun, kedatangan belanda ini tidak diterima oleh penduduk Banten karena tindakannya buruk dan sering menimbulkan keributan. Saat itu, bangsa Belanda pun kembali ke negaranya.

Sejak saat itu, bangsa Belanda lainnya kembali berdatangan ke Indonesia. Tak cuma di Banten, mereka pun berhasil mendapatkan rempah-rempah di Maluku pada tahun 1599. Di tahun itu, Maluku masih dikuasai Portugis.

Untuk mendapatkan tujuannya, Belanda pun mendirikan benteng pertahanan yang disebut Benteng Afar. Di saat yang sama, kapal-kapal dagang bangsa Belanda mulai memperkuat diri dengan mendirikan Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), yakni Kongsi Dagang.

Sejak VOC didirikan, Belanda melakukan monopoli perdagangan di pelabuhan-pelabuhan dan pusat perdagangan di Indonesia. Selain itu, Belanda juga menanamkan kekuasaan dan pengaruhnya pada rakyat di daerah yang didatanginya.

Tahun 1619, Belanda berhasil menguasai Batavia (kini menjadi Jakarta). Dalam beberapa tahun, Batavia berkembang cukup pesat karena menjadi pusat VOC.

Sayangnya, monopoli perdagangan dan sikap bangsa Belanda ini hanya membuat kerugian pada rakyat Indonesia. Untuk melawan penjajahan ini, rakyat Indonesia berusaha melakukan perlawanan untuk mengusir Belanda dari daerah masing-masing.

Akibar revolusi Prancis tahun 1789, kekuasaan VOC berubah dari pemerintah ke Kolonial Belanda. Setahun kemudian, VOC bubar karena gelombang revolusi ini serta agresi Inggris ke Indonesia.

Tahun 1808, Herman Willem Daendels, seorang politikus Belanda, diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Di bawah kepemimpinanya, dia membagi Pulau Jawa menjadi sembilan daerah dan menerapkan sistem perbudakan dan kerja paksa yang disebut rodi.

Sejak pemerintahan Deandels, banyak rakyat yang menderita, kelaparan, bahkan meninggal dunia. Tindakan Deandels ini mendapat kecaman dari bangsa Indonesia dan Belanda. Ia pun digantikan oleh Gubernur Jenderal Jansens tahun 1811.

Jansens berusaha memulihkan keadaan pertahanan yang belum stabil. Belum selesai bekerja, Jansens harus menyerah pada Inggris yang berhasil menguasai Indonesia.

Ilustrasi merdekaIlustrasi kemerdekaan/ Foto: iStock

3. Kolonial Inggris menguasai Indonesia

Inggris di bawah kepemimpinan gubernur Sir Thomas Stamford Raffles menguasai Indonesia. Raffles mulai menghapuskan sistem kerja paksa, monopoli perdagangan, dan perbudakan yang ada di masa kolonial Belanda.

Raffles menerapkan aturan kebebasan menanam dan perdagangan, serta praktik sewa tanah. Selama memerintah di Pulau Jawa, dia banyak membuat kebijakan di bidang ilmu pengetahuan, keadilan, dan kesehatan rakyat. Salah satunya adalah membangun kebun Raya Bogor.

Kekuasaan Inggris di Indonesia berakhir ketika kaisar Prancis, Napoleon Bonaparte, kalah dalam perang di Eropa. Inggris lalu menyerahkan kembali kekuasaan pada Belanda, sesuai dengan perjanjian di Konvensi London tahun 1816.

4. Penjajahan Jepang

Setelah 3,5 abad dijajah Belanda, Indonesia diduduki Jepang. Negara di Asia ini berhasil menggeser kekuasaan Belanda beserta sekutunya dari wilayah Indonesia.

Pada awal pendudukannya, tentara Jepang diterima dengan baik oleh bangsa Indonesia. Jepang melakukan tindakan-tindakan yang menarik simpati rakyat hingga pemimpin Indonesia. Salah satunya adalah memberikan pendidikan dan latihan militer pada pemuda Indonesia.

Namun, akhirnya tindakan-tindakan itu mulai berubah dan merugikan bangsa Indonesia. Jepang mulai memeras tenaga seluruh rakyat Indonesia untuk bekerja demi kepentingan negara itu.

Romusha atau orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa oleh Jepang adalah pihak yang paling menderita. Mereka kebanyakan adalah orang desa yang dipekerjakan secara paksa untuk objek-objek militer. Jika rakyat menentang bekerja, maka mereka akan dihukum dan disiksa dengan kejam.

Penjajahan Jepang semakin memburuk karena mengambil sebagian besar hasil panen makanan. Akibatnya, banyak rakyat Indonesia yang kelaparan hingga terserang penyakit.

Kekejaman Jepang ini menimbulkan pemberontakan dari beberapa daerah. Tahun 1944, keadaan Jepang kian memburuk setelah mengalami banyak kekalahan dari pasukan Amerika Serikat.

Saat itu, pemerintah Jepang akhirnya menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Mereka pun membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Maret 1945. Anggota BPUPKI ini terdiri dari bangsa Indonesia dan Jepang.

Setelah dua kali melakukan sidang, BPUPKI bubar dan dibentuk penggantinya bernama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai Ir. Soekarno dan wakil ketua Drs. Mohammad Hatta.

Pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada Amerika Serikat. Meski janji kemerdekaan dari Jepang tidak terlaksana, para pemimpin dan rakyat Indonesia tetap mempersiapkan kemerdekaannya sendiri.

pada 17 Agustus 1945, cita-cita kemerdekaan Indonesia terwujud. Di hari itu, bendera merah putih dikibarkan dan Ir. Soekarno membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.

(ank/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi