sign up SIGN UP search


parenting

5 Ciri Pantun yang Bisa Dikenalkan ke Anak Beserta Contohnya

Annisa Karnesyia   |   Haibunda Selasa, 04 Jan 2022 18:20 WIB
Anak belajar Ilustrasi Anak Belajar Ciri-ciri Pantun/ Foto: Getty Images/iStockphoto/pondsaksit
Jakarta -

Pantun adalah salah satuĀ mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk anak Sekolah Dasar (SD). Pantun merupakan karya sastra asli Indonesia yang sudah ada sejak dulu, Bunda.

Mengenalkan anak dengan pantun dapat bermanfaat untuk kehidupannya lho, Bunda. Sebab, banyak pantun Indonesia yang berisi nasihat dan hal positif tentang kehidupan.

Belajar pantun sama saja mengajarkan Si Kecil warisan budaya Indonesia. Apalagi pada 17 Desember 2020, tradisi pantun telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda.


Sejarah pantun

Menurut Suprapto, M.Pd dan Suharsini, S.Pd dalam buku Pantun: Khasanah Sastra Klasik yang Tetap Menarik, pantun merupakan salah satu puisi asli Indonesia yang sudah sangat tua usianya, Bunda. Pantun berbahasa Indonesia (Bahasa Melayu) mula-mula berkembang di daerah Minangkau, Sumatera.

Arti dasar kata pantun ialah yang teratur, yang tersusun; karangan yang disusun dengan bahasa terikat atau tidak terikat. Kata pantun mempunyai arti ucapan yang teratur, pengarahan yang mendidik.

"Pantun juga dapat berarti sindiran. Zaman dulu, pantun digunakan sebagai bahasa pengantar atau bahasa pargaulan. Selain merupakan ungkapan perasaan, pantun dipakai untuk menghibur orang," kata tim penulis buku.

Wendi W.R.D, dalam buku Ayo, Berbalas Pantun!, mengatakan bahwa dahulu pantun menggunakan Bahasa Melayu, Bunda. Namun, setelah Bahasa Indonesia disahkan, bahasa pantun pun berubah.

"Pantun mulai mengikuti perkembangan zaman. Bahasa pantun pun beralih dari Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia," ujar Wendi.

Pantun juga bersifat anonim, Bunda. Artinya, penulis pantun umumnya tidak diketahui dengan jelas.

Lahirnya pantun dimulai dari kebiasaan masyarakat Melayu yang senang menggunakan kiasan. Bagi mereka, kiasan itu penting untuk menyampaikan maksud, Bunda.

Nah, salah satu kiasan yang digunakan adalah pantun. Pantun dipakai dalam setiap acara, baik di pertemuan, pernikahan, atau acara adat.

"Bagi mereka, pantun merupakan alat komunikasi yang sangat penting. Oleh karena ini, dahulu pantun dapat dijadikan alat untuk mengukur kepribadian seseorang," kata Wendi.

Pengertian pantun

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, pantun adalah bentuk puisi Indonesia (Melayu), yang tiap bait (kuplet) biasanya terdiri atas empat baris yang bersajak (a-b-a-b). Tiap larik pantun biasanya terdiri dari atas empat kata, baris pertama dan kedua biasanya untuk tumpuan (sampiran) saja, dan baris ketiga dan keempat merupakan isi.

Ada banyak pendapat tentang asal kata pantun. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Kata pantun berasal dari kata umpama, misal, seperti.
  2. Kata pantun berasal dari Bahasa Jawa, yakni pantun atau pari yang berarti padi.
  3. Kata pantun berasal dari kata 'Vtun'. Kata ini berasal dari Bahasa Kawi tuntun atau tuntunan yang berarti mengatur. Dalam Bahasa Filipina, tuntun berarti teratur. Sedangkan dalam Bahasa Tagalog, tuntun memiliki arti bicara
  4. menurut aturan tertentu. Dengan kata lain, pantun dapat berarti aturan atau susunan.
Anak belajarIlustrasi Anak Belajar Ciri-ciri Pantun/ Foto: Getty Images/iStockphoto/maruco

Ciri-ciri pantun

Pantun memiliki ciri khusus yang berbeda dengan karya sastra Indonesia lainnya. Melansir dari berbagai sumber, berikut 8 ciri pantun:

1. Tiap bait terdiri dari empat larik

Dalam karya sastra, larik adalah baris. Berikut contoh bait dalam pantun anak:

Kayu randu kayu jati
Jangan bandingkan dengan bambu
Senang nian rasanya hati
Bola disayang ayah dan ibu

Buah mangga di atas keranjang
Mangga dikupas semua setuju
Sepi hatiku berganti riang
Melihat ibu membawa baju

2. Tiap larik terdiri atas 8 sampai 12 suku kata

Tiap baris pantun biasanya memiliki 8 sampai 12 suku kata, Bunda. Berikut contohnya:

Ka-yu ran-du ka-yu ja-ti (8 suku kata)
Ja-ngan ban-ding-kan de-ngan bam-bu (9 suku kata)
Se-nang ni-an ra-sa-nya ha-ti (9 suku kata)
Bo-la di-sa-yang a-yah dan i-bu (10 suku kata)

Bu-ah mang-ga di a-tas ke-ran-jang (10 suku kata)
Mang-ga di-ku-pas se-mua se-tu-ju (10 suku kata)
Se-pi ha-ti-ku ber-gan-ti ri-ang (10 suku kata)
Me-li-hat i-bu mem-ba-wa ba-ju (10 suku kata)

3. Larik pertama dan kedua merupakan sampiran.

Sampiran merupakan pengantar agar pembaca mau membaca larik ketiga dan keempat.

4. Larik ketiga dan keempat merupakan isi.

Isi merupakan maksud atau tujuan pantun berupa pikiran, perasaan, nasihat, kebenaran, pernyataan, atau teka-teki. Isi pantun juga mengandung pesan yang disampaikan orang yang berpantun kepada orang lain.

5. Rima akhir larik bersajak a-b-a-b

Rima akhir adalah bunyi yang dihasilkan pada akhir kata setiap baris pantun, Bunda. BerikutĀ contoh pantun dengan rima bersajak a-b-a-b:

Kayu randu kayu jati
Jangan bandingkan dengan bambu
Senang nian rasanya hati
Bola disayang ayah dan ibu

Rima akhir larik bersajak a-b-a-b. Dari contoh di atas, ini berarti baris pertama dan kedua berakhiran 'i' dan 'u'. Pada baris ketiga dan keempat juga berakhiran 'i' dan 'u'.

Larik pertama dan ketiga memiliki bunyi akhir yang sama. Sama halnya juga dengan larik kedua dan keempat.

Simak juga tips belajar online efektif selama pandemi, dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/som)
Share yuk, Bun!

Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi
Pantau terus tumbuh kembang Si Kecil setiap bulannya hanya di Aplikasi HaiBunda!