PARENTING
Jangan Selalu Bilang "Yang Penting Anak Bahagia", Psikolog Jelaskan Dampaknya pada Emosi Anak
Nadhifa Fitrina | HaiBunda
Minggu, 12 Apr 2026 14:50 WIBDalam keseharian, banyak orang tua memiliki harapan yang sama untuk anak-anak mereka. Salah satu yang paling sering terdengar adalah keinginan agar anak selalu merasa bahagia.
Seorang psikolog sekaligus pakar parenting asal Amerika Serikat, Dr. Robyn Koslowitz, PhD, menyoroti hal ini. Ia menyebut bahwa ada ungkapan yang umum digunakan, tapi kerap disalahpahami dalam penerapannya.
Dalam sebuah kelas parenting, Koslowitz pernah mengajak para orang tua untuk berdiskusi tentang nilai dalam pengasuhan. Saat itu, ia meminta peserta untuk menyebutkan prinsip mereka dalam membesarkan anak.
Tak butuh waktu lama, kalimat "Yang penting anak bahagia" pun muncul dan langsung disetujui oleh banyak orang di ruangan tersebut. Menurut Koslowitz, kalimat tersebut memang terdengar baik di awal.
"Kedengarannya sangat bagus, bukan? 'Yang penting anak bahagia'. Itu terdengar sangat positif, lembut, mendukung, tetapi bisa keliru," kata Koslowitz, menilik dari laman Parade.
Ungkapan tersebut sebenarnya kurang tepat dan dapat berpengaruh pada perkembangan emosi anak, Bunda. Mari kita simak ulasan selengkapnya di sini.
Dampak mengatakan "Yang penting anak bahagia" terhadap emosi anak
Koslowitz membagikan beberapa dampak dari penggunaan kalimat "Yang penting anak bahagia" terhadap emosi anak. Berikut penjelasan lengkapnya:
1. Anak cenderung menyembunyikan emosi
Bunda, kita perlu paham bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang selalu dirasakan setiap saat. Jika anak merasa harus selalu terlihat bahagia, hal ini justru bisa menjadi tekanan tersendiri bagi mereka.
"Kita tidak selalu bisa bahagia. Hidup terkadang menyedihkan, menakutkan, atau membuat frustrasi. Jika seorang anak tahu bahwa orang tuanya sangat berkomitmen untuk selalu membuat mereka bahagia, mereka mungkin merasa tidak nyaman berbagi emosi yang kurang menyenangkan dengan orang tua mereka," katanya.
"Inilah yang terkadang membuat anak-anak enggan memberi tahu orang tua tentang tanda-tanda awal kesulitan yang sebenarnya," sambungnya.
Bicara soal ini, ada banyak situasi yang tidak selalu membuat anak merasa bahagia. Misalnya saat merasa tidak percaya diri, cemas, atau menghadapi masalah dengan teman.
Jika anak merasa takut dengan tanggapan orang tua terhadap emosi tersebut, mereka bisa memilih untuk diam. Padahal, momen seperti itu justru penting untuk membangun komunikasi dengan anak.
2. Anak merasa tertekan untuk selalu memenuhi harapan
Ketika orang tua hanya berfokus pada 'anak harus bahagia', hal ini lebih mengarah pada hasil yang diinginkan, bukan nilai dalam pengasuhan. Nilai seharusnya menjadi arah yang membimbing cara mendidik anak dalam keseharian.
Sementara itu, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan sepenuhnya oleh orang tua. Anak tetap punya perasaan, pengalaman, dan situasi yang berbeda-beda setiap harinya.
Fokus pada hasil seperti ini juga tidak selalu bisa berjalan sesuai dengan harapan. Mereka tidak bisa selalu mengikuti ekspektasi yang sudah ditentukan oleh Bunda dan Ayah.
3. Anak kurang terlatih menghadapi emosi yang beragam
Selanjutnya, saat anak hanya diajarkan untuk selalu bahagia, mereka pun menjadi kurang belajar menghadapi berbagai emosi yang sebenarnya itu wajar terjadi, Bunda.
Padahal dalam kehidupan, anak pasti akan mengalami perasaan yang tidak hanya senang saja. Mereka juga perlu dibantu untuk mengenali emosi seperti sedih, marah, kecewa, atau bingung.
Menurut Koslowitz, emosi bukanlah sesuatu yang bersifat negatif. Ia menilai bahwa ungkapan "Yang penting anak bahagia," kurang mendukung anak dalam mengenali emosinya dengan tepat.
"Emosi bukanlah musuh. Emosi bisa menjadi sahabat terbaik kita. Ungkapan "Yang penting anak bahagia," tidak memungkinkan kita untuk menggunakan emosi dengan benar," katanya.
Jenis ungkapan yang tanpa disadari mengajarkan anak menghindari perasaan mereka
Dikutip dari Parade, psikolog Koslowitz membagikan jenis kalimat yang tanpa disadari mengajarkan anak untuk menghindari perasaan mereka. Simak penjelasannya, Bunda:
1. Ungkapan yang mengabaikan perasaan anak
Berikut ini ungkapan yang bisa mengabaikan perasaan anak:
- "Kamu baik-baik saja"
- "Ini bukan masalah besar"
- "Berhenti menangis" atau "Anak yang sudah besar tidak boleh menangis"
Ungkapan-ungkapan ini memang sering dimaksudkan untuk menenangkan anak. Namun, hal ini justru bisa memberi pesan bahwa emosi yang dirasakan anak tidak penting atau dianggap berlebihan.
2. Ungkapan yang mengecilkan perasaan anak
Berikut ini ungkapan yang dapat mengecilkan perasaan anak:
- "Anak-anak lain mengalami kesulitan yang lebih besar"
- "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan"
Meskipun terdengar lebih baik daripada menyuruh anak untuk mengabaikan perasaannya, kalimat tersebut tetap bisa membuat anak merasa bahwa emosinya itu tidak benar, Bunda.
Saat anak sedang sakit hati, kecewa, atau emosinya tidak stabil, mereka sebenarnya butuh dukungan dan pengakuan atas perasaannya. Bukan langsung diarahkan untuk mengubah cara berpikirnya.
3. Ungkapan yang bisa mengalihkan perasaan anak
Berikut ini ungkapan yang mengalihkan perasaan anak:
- "Semuanya akan baik-baik saja"
- "Kamu pasti bisa mengatasinya"
- "Kamu bisa melakukannya lebih baik lain kali"
Ungkapan seperti ini memang terdengar menenangkan, tapi sebenarnya anak akan merasa harus cepat move on dari perasaannya. Seolah-olah mereka tidak diberi waktu untuk benar-benar merasakan apa yang sedang ia alami, Bunda.
Padahal, anak butuh diajarkan untuk memahami emosinya sebelum diarahkan untuk 'baik-baik saja'.
4. Ungkapan yang mengubah perasaan anak
Berikut ini ungkapan yang dapat mengubah perasaan anak:
- "Lihatlah sisi positifnya"
- "Berpikirlah positif"
Kalimat ini biasanya disampaikan dengan tujuan supaya anak segera merasa lebih baik. Namun tanpa disadari, anak bisa merasa bahwa emosi yang sedang ia rasakan tidak boleh berlangsung lama.
5. Ungkapan yang mengatur perasaan anak demi kenyamanan orang tua
Berikut ini ungkapan yang mengatur perasaan anak demi kenyamanan orang tua:
- "Jangan terlalu dramatis"
- "Kamu membuat keributan"
- "Kamu membuat Bunda malu"
Ungkapan ini biasanya diucapkan jika orang tua merasa kewalahan dengan reaksi anak. Namun, anak akan merasa bahwa perasaannya tidak boleh terlalu ditunjukkan karena bisa membuat orang tuanya tidak nyaman.
Nah, sekarang Bunda sudah tahu ya dampaknya pada emosi anak jika sering mengatakan "Yang penting anak bahagia".
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
Anak Terlihat Narsis, Apakah Karena Faktor Keturunan? Ini Kata Psikolog
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
6 Cara Mengendalikan Emosi pada Anak, Bunda Perlu Tahu
Pentingnya Ajarkan Pengendalian Emosi Anak Sejak Dini, Bunda Perlu Tahu
5 Tips Memahami Perkembangan Emosional Anak
Tips Agar Anak Tak Jadi Pelampiasan Emosi Bunda
TERPOPULER
Ciri Orang yang Tidak Haus Validasi di Media Sosial, Jarang Pamer Kehidupan
Potret Sekala Anak Ayudia Bing Slamet & Ditto Percussion di Usia 10 Tahun
Kenali Presenteeism, Fenomena Karyawan Merasa Harus Cepat Balas Chat demi Terlihat Produktif
15 Obat yang Harus Dihindari Ibu Hamil agar Tidak Keguguran
Deretan Artis Bagikan Momen Hari Raya Idul Adha di Tanah Suci
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Browcara untuk Alis Natural Tapi Tetap Terbentuk Sempurna
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Merek Pakaian Dalam Ibu Hamil Terbaik untuk Kenyamanan Maksimal
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
10 Rekomendasi Panci Granit Terbaik dengan Desain Elegan dan Modern
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Panggangan Arang hingga Portable
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Baju Kondangan Ibu Hamil yang Simple, Modern & Kekinian
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Ciri Orang yang Tidak Haus Validasi di Media Sosial, Jarang Pamer Kehidupan
Potret Sekala Anak Ayudia Bing Slamet & Ditto Percussion di Usia 10 Tahun
Kenali Presenteeism, Fenomena Karyawan Merasa Harus Cepat Balas Chat demi Terlihat Produktif
15 Obat yang Harus Dihindari Ibu Hamil agar Tidak Keguguran
Deretan Artis Bagikan Momen Hari Raya Idul Adha di Tanah Suci
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Terpopuler: Isu Mundurnya Sunan Kalijaga di Kasus Erin hingga Mahalini Spill Tipis Wajah Anak
-
Beautynesia
4 Tips Mencegah Kolesterol saat Iduladha
-
Female Daily
4 Cara Cegah Kolesterol Naik saat Idul Adha
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Viral Curhat Wanita Pacaran 3 Tahun, Tahu Pacar Nikah dari FYP TikTok
-
Mommies Daily
15 Wisata Curug Ramah Anak di Indonesia, Cocok untuk Liburan Keluarga!