psikologi

Saat Anak 'Mupeng' pada Postingan Temannya di Medsos

Radian Nyi Sukmasari Minggu, 19 Nov 2017 - 14.02 WIB
Ilustrasi anak bermain medsos lewat gadget/ Foto: Thinkstock Ilustrasi anak bermain medsos lewat gadget/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Di zaman sekarang, bukan nggak mungkin anak-anak usia sekolah udah punya akun media sosial alias medsos sendiri ya, Bun. Nah, anak bisa juga nih melihat segala hal yang diposting temannya yang terlihat enak lantas timbul deh keinginan untuk melakukan hal yang sama kayak si teman.

Contohnya seperti diceritakan bunda dua anak bernama Bella. Dia bilang, anak perempuannya yang berumur 8 tahun sudah punya Instagram. Ya, walaupun dalam 'memainkannya' si anak tetap Bella dampingi. Cuma, kadang si kecil suka merasa postingan temannya kelihatan enak dan dia bertanya ke bundanya kapan dia bisa melakukan atau punya hal yang sama kayak si teman.



"Misalnya dia lihat temannya posting lagi jalan-jalan ke mana gitu. Dia bilang ke saya dan mengajak ke tempat itu. Atau, temannya memposting dibeliin sepatu roda sama orang tuanya, anak saya jadi pengen," kata Bella.

Ketika berada di situasi seperti Bunda Bella, apa ya, Bun, yang baiknya kita lakukan? Nah, menurut psikolog anak dan remaja dari Mentari Anakku, Firesta Farizal, kalau kebetulan bunda juga punya akun medsos, coba tunjukkan foto yang nggak selalu mengenakkan yang pernah bunda posting. Contohnya, pas si kecil lagi sakit atau pas lagi kepanasan naik bajaj.

"Jadi kita menunjukkan ke anak bahwa nggak semua sesuatu diposting di medsos. Ada orang yang memposting yang bagus-bagus aja di medsos. Lalu, kadang anak butuh diingatkan untuk bersyukur," kata wanita yang biasa disapa Eta ini saat ditemui beberapa waktu lalu.

Bersyukur yang kita ingatkan ke anak dalam arti keadaan anak saat ini masih jauh lebih baik kok dibanding orang lain yang berada 'di bawahnya'. Ya, walaupun Eta bilang wajar aja sih kalau anak ingin sesuatu seperti temannya. Namanya juga manusia ya, Bun. Jangankan anak, kadang kita orang dewasa pun bisa mupeng alias muka pengen ketika melihat apa yang dilakukan atau dipunya orang lain.

Kata Eta, kalau kita punya cukup waktu untuk berdiskusi dan memberi gambaran ke anak kalau masih banyak orang yang berada 'di bawahnya', dia bisa lebih bersyukur. Ambil contoh ketika anak cerita temannya ada yang pergi ke luar negeri. Nah, kita bisa ingatkan anak kalau kita pun pernah pergi ke luar kota naik pesawat.

"Terus tahu nggak, ada lho tetangga kita yang belum pernah naik pesawat, Kak. Tapi kita udah pernah kan waktu itu. Ada juga anak yang bahkan cuma ke Ancol aja setahun sekali lho,". Contoh kalimat kayak gitu, kata Eta, bisa kita sampaikan ke si kecil, Bun.


"Jadi yang bisa kita lakukan adalah mengingatkan ke anak bahwa nggak semua hal diposting di medsos dan nggak semua yang diposting di medsos itu real. Lalu, ingatkan anak untuk selalu bersyukur karena masih banyak anak lain yang 'di bawah' dia," kata Eta.

(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi