psikologi

Saat si Kecil yang 2 Tahun Nggak Sepesat Perkembangan Anak Lain

Melly Febrida Minggu, 14 Jan 2018 - 08.05 WIB
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Di usia dua tahun mungkin ada anak yang terampil banget memegang sendok dan makan sendiri. Saat anak kita belum seterampil itu, mungkin ada rasa iri yang menyusup. Pun ketika ada anak dua tahun yang sudah terampil banget berbicara dan menyanyi, sementara anak kita belum seterampil itu, bisa jadi ada rasa iri atau mungkin cemas.

Ketika hal negatif itu muncul, kita harus tanamkan lagi dalam pikiran kita Bun bahwa setiap anak itu berbeda. Mereka dilahirkan dengan susunan gen yang berbeda dan dibesarkan dalam situasi yang berbeda pula.

Ketika anak-anak tumbuh menjadi batita, perbedaan bukan hal yang aneh. Bahkan perbedaannya nggak cuma satu, tapi bisa banyak hal.


Catherine Malley, Educator Bidang Tumbuh Kembang Anak Cooperative Extension Office, University of Connecticut, Amerika Serikat, mengatakan, tumbuh kembang pada tahap toddler sifatnya unik Bun. Anak-anak punya kecepatan sendiri.

Bunda sah-sah saja mengacu ke berbagai diagram tumbuh kembang dari pakarnya. Tapi, diagram itu hanya menggambarkan capaian rata-rata. Jadi, nggak perlu sama persis pencapaian si kecil Bun.
Saat si Kecil yang 2 Tahun Nggak Sepesat Perkembangan Anak LainSaat si Kecil yang 2 Tahun Nggak Sepesat Perkembangan Anak Lain/Foto: thinkstock


Kata Catherine, selama tahap toddler ini sebagian besar anak-anak akan belajar berjalan, bicara, memecahkan masalah, berhubungan dengan orang lain, dan sebagainya. Saat inilah si kecil akan menunjukkan keunikannya.

Catherine menyarankan agar kita nggak terlalu merisaukan hal yang kecil kalau melihat perbedaan tumbuh kembang si kecil dengan anak lain, atau dengan diagram tumbuh kembang. Kalau buku menuliskan anak seusia 26 bulan harus sudah bisa melakukan ini itu, bukan berarti anak kita harus selalu sudah siap memenuhi tuntutan tersebut saat ini. Bun.

"Yang perlu Anda waspadai adalah perbedaan yang besar, bukan yang kecil-kecil atau remeh temeh," tulis Parent Guide Growing Up Usia 2 Tahun.

Kalau masih khawatir, sebaiknya kita catat dan diskusikan dengan dokter atau psikolog tumbuh kembang anak. "Kalau perbedaan perlu mendapat perhatian khusus, percayalah Sang Pencipta Yang Maha Sempurna pasti mempunyai maksud baik di balik perbedaan itu," imbuh Catherine.

Berikut karakteristik tumbuh kembang anak usia 2 tahun menurut Catherine, tapi ingat ya Bun setiap anak itu berbeda.

Fisik

1. Lebih aktif dari tahun sebelumnya
2. Berjalan, berlari, memanjat, naik turun tangga sendiri, menggali
3. Melempar bola, menendang ke depan
4. Melompat dengan dua kaki bersama, menjinjit
5. Mengambil sebagian, mengembalikannya, memasang dan menutup wadah
6. Tidak nyaman kalau popok basah
7. Mulai berminat pakai toilet


Sosial-emosional

1. Mulai bermain pura-pura, tanpa melibatkan orang lain
2. Egois, susah berbagi tapi senang bermain atau dekat dengan orang lain
3. Senang berkata tidak
4. Kadang melakukan hal sebaliknya yang diperintah
5. Senang meniru tingkah orang dewasa
6. Mudah frustrasi
7. Tidak mau ditolong
8. Masih memerlukan rasa aman
9. Lebih pede

Intelektual

1. Bisa mengikuti perintah sederhana, bisa mengombinasikan tiga kata atau lebih
2. Mengungkapkam perasaan dan keinginan
3. Rentang perhatian sangat pendek
4. Mampu mengingat sajak pendek
5. Mengikuti lagu sederhana
6. Mulai berpikir sebelum bertindak
7. Sulit membuat pilihan, tapi ingin.

Tanggap Sejak Dini

Kelainan tumbuh kembang anak yang ditemukan di semua lapisan masyarakat, baik yang mampu atau tidak mampu, jumlahnya banyak juga Bun. Misalnya, gizi kurang, kelambanan perkembangan, gangguan daya dengar dan lihat, gangguan mental emosional, autisme, hiperaktivitas dan gangguan pemusatan perhatian pada anak.

Saat si Kecil yang 2 Tahun Nggak Sepesat Perkembangan Anak LainSaat si Kecil yang 2 Tahun Nggak Sepesat Perkembangan Anak Lain/Foto: Hassan/detikcom

Untuk mengatasinya, orangtua untuk melakukan skrining atau pemeriksaan rutin, terutama pada masa Golden Periode (usia 0-3 tahun), di saat otak anak sedang mengalami perkembangan dengan pesat. Pemeriksaan itu bisa dilakukan di pusat pelayanan kesehatan seperti posyandu, puskesmas atau rumah sakit, setiap sebulan sekali atau setidaknya 3 bulan sekali.


"Perlu dipahami bahwa semakin dini terdeteksi dan intenvensi dilakukan, pada banyak kasus gangguan pertumbuhan perkembangan semakin maksimal hasilnya," kata dr Budihardja, DTM&H,MPH, dikutip dari detikhealth.

Dengan melakukan stimulasi, deteksi dan intervensi dini, orangtua dapat mengotimalkan pertumbuhan, perkembangan dan potensi sang buah hati. dr Budi juga menjelaskan kelainan tumbuh kembang yang terlambat dideteksi dan diintervensi dapat mengakibatkan kemunduran perkembangan anak dan berkurangnya efektivitas terapi. (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi