sign up SIGN UP search
Family concept;Mother rebuke her son and he feels guilty and holding head. The boy cannot do his homework.

Bundapedia

Tiger Parenting

  |   Haibunda

Jika Bunda belum pernah mendengar istilah ini, tiger parenting adalah sebuah pola asuh yang menggabungkan kontrol dan otoriter yang ketat untuk Si Kecil. Biasanya, orang tua akan mengatur secara khusus dan detail anak mereka. Ini dilakukan agar anak dapat mencapai dan memenuhi harapan orang tua.

Dalam tiger parenting, semua hal bisa saja diatur oleh orang tua. Hal ini membuat anak tidak memiliki ruang untuk bercerita dan menyampaikan perasaannya tentang bagaimana hari berjalan, dan bagaimana mereka merencanakan masa depannya. Sebab, semuanya sudah diatur dengan detail oleh orang tua.

Cakupan tiger parenting juga cukup luas. Bukan hanya sebatas bagaimana anak bersikap, tapi juga sampai dengan siapa mereka berteman, kegiatan apa yang mereka ikuti, dan seterusnya.


Orang tua yang menggunakan tiger parenting sebagai pola asuh menggunakan ancaman emosional, bahkan tidak jarang juga menggunakan kekerasan fisik, terutama saat anak melakukan kesalahan, atau ketidakmampuan lainnya.

Ciri-ciri tiger parenting

Tiger parenting sangat khas dengan banyaknya aturan yang harus anak jalani, dan memberikan kontrol penuh kepada orang tua. Dalam pola pengasuhan ini, orang tua memiliki kuasa yang sangat kuat sehingga anak tidak dapat melawan dan membuka percakapan dua arah.

Beberapa ciri-ciri tiger parenting adalah:

  • Aturan yang terlalu ketat
  • Orang tua dengan tiger parenting selalu fokus dengan kerja keras, lalu mengorbankan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan demi kesuksesan jangka panjang. Maka dari itu, mungkin tidak ada pesta ulang tahun untuk anak, berlibur, dan seterusnya.
  • Selain itu, orang tua juga menjadi super protektif dengan aturan-aturan ketat. Sebab, menurut pandangan mereka, berbagai hal bisa mengancam masa depan anak-anak mereka.

Harapan yang terlalu tinggi

Pada tiger parenting, orang tua juga menaruh harapan yang tinggi untuk anaknya. Mereka menginginkan anaknya berprestasi, karena mereka sudah mengusahakan yang terbaik untuk anaknya. Maka jika anak gagal, anak akan ditegur bahkan dimarahi karena sudah membuat malu.

Agar tidak membuat malu, anak akan dipaksa untuk menghabiskan waktu untuk belajar, berlatih, dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan agar mendapatkan sekolah, universitas, dan pekerjaan yang lebih baik.

Pendekatan dengan rasa takut

Dengan sikap otoriter, orang tua dengan tiger parenting mengharapkan anak hormat dengan mereka, tapi dengan cara menakuti. Hal ini membuat anak tidak berani dan tidak bisa mengungkapkan pendapatnya. Jika anak tidak setuju, mereka akan mengancam dengan ancaman emosional, bahkan dengan hukuman fisik.

Ini bisa melebar dari membuang mainan favorit, memukul, sampai meremehkan mereka.

Strict musician mother is teaching her daughter to play the piano. Musical recreation activities for children.Ilustrasi tiger parenting/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Ju Photographer

Anak kurang bebas

Orang tua dengan tiger parenting cenderung memegang kendali penuh atas kehidupan anak mereka. Anak akan dibesarkan untuk membuat keputusan berdasarkan kemauan dan preferensi orang tua. Sehingga, mereka tidak bebas menentukan keinginan mereka.

Selain itu, dalam tiger parenting biasanya orang tua kurang memiliki kesabaran atau keinginan untuk mengenal anak lebih dalam. Seperti kepribadian, perasaan, sampai cara pandang anak sebagai individu yang bebas.

Sukses adalah prestasi

Sukses adalah tujuan utama dan dianggap sebagai prestasi. Orang tua dengan pola asuh tiger parenting biasanya mendefinisikan kesuksesan dengan status yang anak bawa. Ini juga mengandung berbagai stereotip profesi seperti dokter, atau pengacara.

Memenangkan kompetisi dan menghasilkan banyak uang, menurut orang tua dengan tiger parenting, akan membawa nasib ke arah yang lebih baik.

Efek tiger parenting untuk anak

Tanpa disadari orang tuanya, anak yang mendapatkan pola asuh tiger parenting tidak memiliki lingkungan yang bisa mengerti dirinya dan punya kebebasan untuk berekspresi. Pola asuh yang ketat dan berbagai hukuman di dalamnya dapat memberikan efek yang buruk untuk anak.

Berikut adalah efek tiger parenting untuk anak:

  • Memiliki risiko peningkatan kecemasan, menganggap dirinya rendah (self low-esteem), bahkan hingga depresi
  • Secara psikologis menjadi lebih sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan
  • Mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan, bahkan untuk dirinya sendiri
  • Mengalami kesulitan untuk membentuk hubungan dekat dengan orang lain dan membela sendiri
  • Punya rasa takut yang sangat besar untuk membuat kesalahan, karena mereka tidak ingin orang tua menjadi kecewa dengan mereka
  • Tekanan akademik lebih tinggi: Harus mendapat nilai yang sempurna, keterasingan dalam lingkungan sekolah
  • Berisiko untuk melukai diri sendiri (self-harm) dan bunuh diri
  • Memiliki masalah dengan disiplin diri karena mereka tidak diajarkan untuk menetapkan batasan untuk diri mereka sendiri.

Tips menghindari tiger parenting

Mengasuh anak memang bisa membuat stres dan mungkin sulit untuk mengetahui apakah Bunda melakukannya dengan baik. Melihat efek buruk dari tiger parenting, ada baiknya Bunda menghindari pola asuh ini. 

Jangan langsung mendisiplinkan mereka

Ketika anak melakukan kesalahan, jangan langsung mendisiplinkan mereka. Tapi, lebih baik untuk mencari tahu dan mendengarkan apa yang sebenarnya menjadi masalah mereka, pahami apa yang sedang mereka lalui, daripada berasumsi dan menyalahkan mereka.

Ketika Bunda menyediakan ruang aman, anak akan lebih leluasa untuk bercerita dan terbuka dengan Bunda.

Luangkan waktu untuk mengenal anak

Mungkin hidup Bunda akan sibuk dengan banyak pekerjaan, tapi Bunda harus tetap meluangkan waktu untuk mengenal anak lebih dalam. Bunda bisa membagikan cerita sehari-hari dengannya, dan membangun hubungan yang lebih dekat dan tahan lama dengan Bunda.

Rangsang anak punya pemikiran dan ide

Ketika mereka bisa berbagi dan merasa dihargai, mereka akan lebih percaya diri dengan pemikiran dan ide mereka. Mereka juga bisa memiliki pemikiran independen dalam memilih berbagai keputusan yang lebih besar dalam hidup.

Bunda tidak perlu setuju dengan mereka, tetapi Bunda perlu menunjukkan dukungan untuk proses berpikir dalam usia mereka. Ini akan membantu mereka memahami bahwa tidak apa-apa memiliki pandangan yang berbeda, sehingga meningkatkan kecerdasan emosional.

Hormati privasi anak

Bunda perlu membantu membangun kepercayaan diri anak, salah satu caranya adalah dengan menghormati privasinya. Biarkan ia mengeksplorasi ide-ide baru, merasakan berbagai emosi, dan hubungan sosial. 

Jadi, daripada mengancam mereka untuk tidak melakukan sesuatu, lebih baik meyakinkan mereka bahwa Bunda mendukung mereka.

Beri anak pilihan

Mungkin mereka hidup dengan biaya Bunda, termasuk berbagai pengeluaran mereka. Tapi itu tidak berarti orang tua bebas melakukan apapun kepada mereka. Ketika mereka tumbuh dewasa, mereka tidak akan mengandalkan Bunda untuk mengambil keputusan untuk mereka.

Maka itu, Bunda perlu memberinya berbagai pilihan sedari dini.

Jangan lupa puji dirinya

Tiger parenting tidak mengenal memuji usaha yang telah dilakukan anaknya, bahkan ketika mereka telah melampaui ekspektasi. Jadi, ada baiknya Bunda memuji dan memberikan validasi bahwa mereka telah melakukan yang terbaik. Pastikan ia tahu Bunda mendukung mereka.

Itulah pengertian dari tiger parenting, ciri-ciri, dan tips untuk menghindarinya. Semoga bermanfaat ya.

[Gambas:Video Haibunda]





Share yuk, Bun!
Tahukah Bunda
BERSAMA DOKTER & AHLI
Bunda sedang hamil, program hamil, atau memiliki anak? Cerita ke Bubun di Aplikasi HaiBunda, yuk!