cerita-bunda

Sedih Banget, Cuma Gara-gara Cara Gendong Bayi Aku Alami Mom-Shaming

Sahabat HaiBunda Sabtu, 28 Dec 2019 18:42 WIB
Sedih Banget, Cuma Gara-gara Cara Gendong Bayi Aku Alami Mom-Shaming
Jakarta - Hai Bunda, aku mau berbagi cerita soal mom-shaming yang aku alami. Bukan tanpa pertimbangan ketika aku menentukan sebuah pilihan untuk anak aku. Sebelumnya tentu sudah aku pelajari point plus dan minusnya, kemudian mendiskusikannya bersama suami sebagai orang terdekat. Bukankah semua Ibu menginginkan yang terbaik untuk anak?

Sayang, apa yang aku anggap baik belum tentu orang lain sepaham, hal ini biasanya berakhir dengan judgement terhadap kondisi maupun keputusan aku. Mungkin mereka lupa bahwa setiap ibu punya background, kisah, dan struggle sendiri-sendiri. Mungkin mereka juga lupa untuk #BersamaMelindungi. Beberapa bentuk mom-shaming pernah aku alami, namun ada tiga hal besar mom-shaming yang paling membuat aku terngiang sampai saat ini.

ibu lahir



Pertama, keputusan ku untuk melahirkan normal setelah sebelumnya sesar atau VBAC (Vaginal Birth After Cesarian). Sebagian besar kerabat dan tetangga tidak yakin dan menganggap saya tidak mampu. Bahkan beberapa tenaga kesehatan memandang sebelah mata tekad saya.

"Lahiran normal atau sesar kan sama saja, Mbak". Tapi keyakinan saya bahwa, tubuh wanita diciptakan sempurna untuk melahirkan anaknya dan ketakutan saya terhadap risiko sesar berulang menjadikan saya tetap memilih VBAC. Alhamdulillah, berkat rahmat Allah, putri ke-2 aku berhasil VBAC tanpa intervensi apapun.

Kedua, cara aku menggendong M-shape baby aku yang saat itu berusia 3 bulan menjadikan aku bahan pembicaraan orang sekitar. "Jangan digendong begitu, nanti besar jalannya mekekeh (jelek,melebar)." 

Menurut beberapa reverensi valid, menggendong M-shape mendukung tumbuh kembang anak dan kesehatan fisik ibu. Momshaming menggendong M-shape ini cukup jadi beban untuk aku karena orang tua dan mertua aku sendiri kontra dengan pilihan aku.

Ilustrasi cerita bundaIlustrasi cerita bunda/ Foto: iStock
Ketiga, saat aku memberikan MPASI menu 4 lengkap untuk anak aku tepat 6 bulan usianya. Menurut WHO dan IDAI, pemberian menu 4 lengkap dimulai saat hari pertama MpAsi untuk mendukung kecukupan nutrisi sehingga anak terhindar dari stunting. Tapi suara-suara sumbang di luar sana tetap terdengar sampai telinga aku,

"Gak menu tunggal dulu? Kasihan pencernaannya. Eh, ngomong2 sudah repot dan ribet bikin menu lengkap setiap hari kok badan anaknya tetap kecil kurus begitu ya?".

Hal yang pernah membuat aku tersudutkan, sehingga aku merasa apa yang aku lakukan sia-sia. Tapi kemudian aku memilih bangkit, tidak menghiraukan semua judgement dan komentar yang tak mengenakkan, sadar bahwa memberikan yang terbaik untuk keluarga dan anak adalah tujuan perjuangan aku. Untuk Bunda yang pernah atau sedang mengalami mom-shaming, yuk kuatkan dan lapangkan hati.



Lebih banyak belajar dan mencari referensi terpercaya dari ahli atas keputusan yang akan kita ambil agar kita merasa tenang dan yakin. Sharing bersama bunda-bunda lainnya agar mendapatkan motivasi dan tidak merasa sendiri terbebani. Serta istirahat ketika merasa capek, sejenak mendengarkan musik favorit, maskeran dan luluran mungkin juga bukan pilihan yang buruk.

Bisa refresh dan recharge pikiran agar lebih siap menghadapi tantangan dengan penuh kebahagiaan termasuk menghadapi mom-shaming

*Bunda yang ingin berbagi kisah seputar rumah tangga dan parenting di Cerita Bunda, bisa kirimkan langsung ke email redaksi kami di redaksi@haibunda.com Cerita paling menarik akan mendapat voucher belanja dari kami. dengan subjek Cerita Bunda. Ssst, Bunda yang tidak mau nama aslinya ditampilkan, sampaikan juga di email ya. Cerita yang sudah dikirim menjadi milik redaksi kami sepenuhnya. (rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi