sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Sesalku Memijat Anak Sembarangan, Kejang hingga Masuk NICU di Usia 2 Minggu

Sahabat HaiBunda Jumat, 18 Sep 2020 19:42 WIB
Premature newborn  baby girl in the hospital incubator after c-section in 33 week caption
Jakarta -

Hidup di kampung dengan dikelilingi orang tua dan saudara, membuatku sulit mengambil keputusan sendiri. Termasuk mengenai pola pengasuhan anak, Bunda.

Hingga akhirnya membuatku merasa menyesal seumur hidup. Aku merasa menjadi ibu gagal, saat anakku yang berusia 2 minggu masuk NICU (Neonatal Intensive Care Unit).

Saat itu, aku mengikuti nasihat nenek dan orang-orang tua di rumah. Meskipun awalnya takut, akhirnya aku setuju untuk memijat anak yang masih berusia 10 hari.


Saat Mbok Pijat datang, aku pun ikut mendampingi proses pemijatan anakku. Kulihat, ia begitu pelan dan hati-hati memang anankku. Jadi, aku pun percaya semua akan baik-baik saja.

Hingga kejadian tak terduga di hari keempat setelah pijat. Saat itu gerimis dan berkabut di kampungku. Aku di rumah sendirian, karena kebetulan suami bekerja sedang dinas di Jakarta.

Pagi hari, aku memulai rutinitas seperti biasa. Memandikan si kecil dan mulai menyusuinya. Tapi, anehnya saat terus disusui si kecil masih terus menangis. Bahkan, tangisannya seperti menahan sakit.

Masih inget betul, anakku menangis dari jam 08.00 pagi hingga pukul 10.00. Aku pun dibuat khawatir dan memutuskan menelepon ibuku yang sedang menengok kebunnya.

Ibuku pun dengan tergesa-gesa, dan mencoba ikut menenangkan anakku. Setelah setengah jam tak ada tanda-tanda si kecil membaik, akhirnya kami memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.

Berhubung tinggal di kampung, susah mencari kendaraan umum, Bunda. Sedapatnya kucegat ojek untuk diantar ke rumah sakit dalam kondisi gerimis. Tak terbayang air mata bercampur air hujan membasahi wajah.

Sesampainya di RS, para petugas yang berjaga di IGD pun memeriksa si kecil. Mereka melihat ada gangguan kesehatan yang lebih serius pada anakku. Sehingga disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit besar. Sayangnya, rumah sakit itu berjarak sangat jauh dari rumahku.

Akhirnya, ku telepon saudara yang memiliki mobil dan bersedia mengantar kami ke RS di kota. Sesampainya di IGD, dokter dan perawat langsung bertanya penyebabnya. Melihat bayiku sedikit kejang, rasanya membuat jantung ikut berhenti berdetak.

Mereka mengira bahwa si kecil diberi makanan padat di usia 2 minggu. Aku jawab jujur jika bukan itu masalahnya. Cuma, aku sempat memijat si kecil 4 hari lalu.

Dokter pun menasihati bahwa hal itu salah kaprah, Bunda. Dijelaskan bahwa anakku mengalami infeksi usus, salah satu akibat dari pemijatan yang dilakukan pada anakku.

Siang itu juga, si kecil diputuskan untuk dirawat di NICU. Berhubung kami tak mengikuti BPJS, harus dirawat dengan biaya mandiri. Tahukah Bunda, biaya NICU lebih mahal dari perawatan biasa.

Bahkan, saat dokter anak datang dijelaskan bahwa ada beberapa kemungkinan. Salah satunya jika kondisi si kecil tak cukup membaik bisa dilakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan.

Rasanya dunia runtuh, hati seperti terantuk batu besar mendengarnya. Tak tega melihat tubuh mungilnya terbaring sendirian di kotak inkubator dengan berbagai selang di tubuhnya.

Suami yang ku telepon juga kaget mendengarnya. Mertua juga ikut kaget dan sepertinya menyalahkan keputusanku untuk memijatkan anak. Pedasnya kata-kata mertua tak sebanding melihat derita anakku.

Apalagi saat itu aku sendirian, karena suami belum bisa pulang mendampingi. Untungnya, setelah tiga hari si kecil berangsur membaik dan boleh dilakukan rawat jalan. Tapi, aku dan suami malah pusing dengan biaya yang harus kutebus.

Setelah utang sana-sini, aku berhasil menutup biaya rumah sakit yang jumlahnya tidak sedikit. Bahkan setelah kejadian itu, aku tidak bisa sembarangan lagi memberinya makan.

Banyak kejadian dan hikmah yang bisa dipetik dari kejadian tersebut, Bunda. Jangan pernah sembarangan dalam merawat anak, agar tidak menyesal seperti yang kualami.

(Cerita Bunda Anisa - Jambi)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email redaksi@haibunda.com. Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

Agar tak semabrangan memijat, simak memijat bayi yang benar dalam video berikut yuk:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi