sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Suami Sujud di Kaki Melihatku Hampir Mati Berdarah Saat Melahirkan

Sahabat HaiBunda Kamis, 08 Oct 2020 20:16 WIB
Young father holding newborn baby in his arms, embracing baby while standing beside of window on day caption
Jakarta -

Kesabaran menghadapi suami membuahkan hasil manis dalam pernikahan. Siapa sangka, laki-laki yang kukenal egois dan semaunya sendiri, berubah total setelah melihatku melahirkan.

Menikahi anak tunggal menjadi ujian kesabaran sendiri bagiku. Ya, suami terbiasa dimanja oleh ibu dan ayah mertua sepanjang hidupnya. Pendekatan singkat sebelum menikah, membuat aku tak begitu mengenal karakternya lebih jauh.

Apalagi saat menikah, dia terlihat manis dan pengertian. Sehingga aku luluh menerima pinangannya, setelah 4 bulan kenal. Setelah menikah pun, aku rela pisah rumah dengan orang tua dan mengikutinya merantau sebuah kabupaten di Kalimantan Timur.


Pekerjaannya lumayan mapan, sehingga membuat kehidupan kami tercukupi. Namun, kebiasannya hura-hura terbawa meskipun sudah menikah. Setelah sebulan menikah, ia mulai sering keluyuran setelah pulang kantor.

Nongkrong di kafe, hingga karaoke menjadi kebiasaannya bersama teman-temannya. Tak jarang, ia pulang tengah malam dengan bau rokok bercampur minuman.

Sebagai istri, aku sudah mencoba memintanya untuk betah di rumah. Apalagi sebagai pendatang baru, aku tidak punya kenalan di tempat kami tinggal. Oh ya, Bunda, kami tinggal di perumahan yang disediakan perusahaan suami yang masih terisi sedikit keluarga.

Jarak antara rumah satu dengan lainnya yang sudah terisi bisa sampai 200-300 meter. Bisa dibayangkan kalau malam sepinya bagaimana, kan? Apalagi kalau kelaparan, aku susah untuk mencari makanan. Jangan dibayangkan semudah di kota besar yang bisa langsung pesan makanan di ojek online ya.

Nah, dari sinilah aku mulai belajar memasak makanan kesukaan suamiku. Harapannya, agar ia makin betah di rumah. Serta mengurangi jajan di luar. Tapi nyatanya tidak berhasil, hal itu tetap tidak menyentuh hati suamiku.

Aku tahan-tahan semua, dengan harapan ia mau berubah. Hingga akhirnya Allah mempercayakan aku hamil di bulan ketiga setelah menikah. Kabar bahagia ini kami sambut dengan suka cita. Meskipun bahagia, nyatanya ia tetap tak kunjung berubah.

Kukira, setelah mau menjadi ayah ia akan berubah jadi lebih baik. Apalagi melihatku kepayahan di awal kehamilan. Ya, Bunda, aku mengalami morning sickness hebat dan juga hipersalivasi. Jadi, di awal kehamilan aku harus bed rest. Dokter menyuruhku untuk tidak kelelahan dan mengurus pekerjaan rumah tangga dulu.

Alih-alih membantuku membersihkan rumah, ia hanya bermain game saat di rumah. melihatku menangis, dia beralasan ada panggilan dari bos untuk lembur di kantor. Terpaksa dengan fisik yang lemah dan muntah-muntah, aku membersihkan cucian piring yang mulai berlendir.

Membuang sampah berbau busuk yang dicakar-cakar kucing di depan rumah. Hingga mencuci baju yang sudah berbau busuk di kamar mandi. Keringat dan air mata rasanya sudah enggak terasa lagi dalam kondisi ini.

Stres dan tertekan sepanjang kehamilan, membuatku stres berat. Aku pun tidak mungkin mengadukan kesedihan rumah tanggaku ke keluarga. Karena apa? Ia adalah lelaki pilihanku. Ayahku sudah pernah berkata, kalau apapun risikonya aku harus berani bertanggung jawab. Jadi, sekarang aku telan bulat-bulat keterpurukan ini.

Sepanjang kehamilan aku jadi lebih diam menghadapi suamiku. Mau minta cerai kok rasanya cemen banget menyerah begitu saja. Jadi lebih baik diam dan bertahan.

Hingga akhirnya, ada kejadian tak terduga yang harus kulewati di kehamilan 36 minggu. Aku terpeleset di kamar mandi yang licin sehingga mengalami pendarahan. Aku menelpon suamiku dan minta dibawa ke rumah sakit.

Ia pulang dan akhirnya membawaku ke rumah sakit. Selama perjalanan ke rumah sakit, aku mengalami kondisi hidup dan mati. Sepanjang yang kuingat, ia meminta maaf sepanjang jalan sambil memegang tanganku.

Dokter memutuskan untuk segera mengeluarkan bayiku untuk menyelamatkannya. Suami sebagai satu-satunya keluarga yang ada mendampingiku mengedan kesakitan, dan berjuang hidup dan mati saat melahirkan.

Aku sudah tidak ingat lagi apa yang terjadi di ruang bersalin. Satu yang pasti, aku sudah pasrah apakah bisa selamat atau tidak. Tapi, suami melihat begitu terpukul melihat aku mengalami pendarahan hebat.

Ia terus menangis sambil terus meminta maaf bercampur doa agar Allah melindungi istri dan anaknya. Setelah aku sadar, kulihat mata dan wajahnya sembab. Ia kembali menangis melihatku. Ia langsung sujud di kakiku, menciumnya dan mengatakan menyesal.

Ia merasa sangat bersalah dan berdosa membiarkan aku melewati kehamilan yang menyakitkan sendirian. Tak pernah terlintas dalam pikirannya, ada kemungkinan harus kehilangan aku dalam hidupnya.

Ia minta maaf tidak memperlakukan aku dengan baik. Ia berjanji untuk berubah. Kini, usia anak kami sudah 8 bulan dan ia benar-benar menunjukkan perubahan drastis. Sebagai anak tunggal yang manja, kini ia jadi ayah siaga yang enggak jijik membersihkan poop anaknya. Semoga perubahannya bertahan selamanya ya, Bunda.

Dari sini aku menyadari bahwa kesabaran dan doa menjadi kunciku untuk menyelamatkan rumah tangga.

(Cerita Bunda Alika - Kalimantan Timur)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email redaksi@haibunda.com. Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

Bunda, simak juga yuk perjuangan Angie 'Virgin' terpaksa harus melahirkan sendirian di London tanpa ditemani suami, dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi