sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Sakit & Hancur Hati Ini, Bayiku Meninggal Tanpa Pernah Kulihat Wajahnya

Sahabat HaiBunda Jumat, 23 Oct 2020 19:52 WIB
Asian lady cry in patient room in hospital, this photo can use for hospital, cry, sick, and insurance concept caption
Jakarta -

Memiliki keturunan menjadi dambaan banyak pasangan suami istri setelah menikah. Begitu pula denganku dan suami, yang segera ingin memiliki buah hati.

Satu bulan setelah pernikahan, Alhamdulillah aku dinyatakan positif hamil. Sangat bersyukur rasanya, salah satu doaku terkabul. Kabar itu membuat semua anggota keluarga bahagia.

Rasanya, masih belum percaya secepat ini diberikan kepercayaan oleh Allah untuk segera menimang bayi. Kehamilan pertamaku aku jalani dengan senang hati, meskipun di awal kehamilan morning sickness parah melanda, semua aktivitas masih tetap bisa aku lakukan seperti biasa.


Hari-hariku berjalan menyenangkan, menginjak trimester 2 perutku sudah mulai terlihat membesar. Bayangan indah ketika nanti jadi orang tua sudah mulai terbesit di benakku.

Setiap bulan, tidak sabar rasanya menunggu saat-saat periksa ke dokter dan melihat perkembangan janinku melalui USG. Alhamdulillah setiap periksa janinku dinyatakan sehat. Sampai di trimester 3 aku memeriksakan kandungan 2 minggu sekali.

Berlanjut pada usia kandungan masuk 37 minggu, aku kembali mendatangi dokter untuk memeriksakan si kecil. Hasilnya, kepala janin sudah di bawah atau di jalan lahir. Dari hasil pemeriksaan dinyatakan bahwa semuanya dalam kondisi baik, hanya tinggal menunggu untuk masuk panggul.

Dua hari setelah periksa, mimpi buruk itu datang juga. Tepatnya hari Senin 24 Agustus 2020. Pagi hari aku merasa ada yang aneh, tidak seperti biasanya. Pagi ini aku merasa bahwa janinku anteng tidak menendang-nendang seperti biasa. Aku tetap menyempatkan berjalan-jalan mengelilingi kompleks, harapanku ketika aku jalan kaki dan menghirup udara segar dia akan bangun dan kembali bergerak-gerak.

Namun tidak, dia masih tetap diam. Lalu aku lanjutkan sarapan dan memakan segala jenis makanan manis yang ada, tetap saja hasilnya nihil. Janin yang ada di perutku tidak mau bergerak.

Tidak menunggu lama aku langsung mendatangi dokter, karena pasien yang begitu banyak terpaksa aku harus menunggu antrian sampai namaku dipanggil. Tiba giliran namaku dipanggil, asisten dokter mempersilahkan aku untuk naik ke bed kemudian dokter mulai memeriksa melalui USG. Dag-dig-dug rasanya. Rasa khawatir tidak bisa ditepis. Saat itu pula dokter menyatakan bahwa janin sudah meninggal dan harus segera dikeluarkan.

Rasa sedih sudah tidak dapat dibendung lagi, air mata mulai membasahi pipi. Karena masih belum percaya dengan kenyataan ini akhirnya aku mendatangi dokter yang berada di kota sebelah. Tekanan darahku mulai naik, perasaanku sudah tidak karuan. Dokter kedua menyatakan bahwa janin masih ada namun detak jantungnya sudah melemah dan harus segera dikeluarkan melalui operasi (SC).

Janin yang sudah berada di rahimku selama kurang lebih 9 bulan harus dikeluarkan sekarang. Aku pun dirujuk ke salah satu RS, saat itu juga aku harus menjalani operasi darurat caesar (cito caesar) demi menyelamatkan bayiku.

Satu jam kemudian proses operasi sudah selesai. Tapi aku tidak mendengar tangisan bayiku. Rasa pusing dari obat bius masih sangat terasa, saat itu tubuhku belum bisa digerakkan sehingga aku hanya bisa terbaring lemah.

Aku sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, aku terus mencari di mana bayiku. Aku tidak tahu kalau bayiku sudah dibawa pulang untuk dimakamkan. Rasanya sungguh tidak percaya. Dokter mengatakan bahwa bayiku meninggal karena terlilit tali pusar.

Belum sempat sedetik pun aku melihat wajah bayiku, sedetik pun aku belum bisa menggendongnya. Kenapa harus secepat ini Allah mengambilnya kembali? Tangisku tidak dapat terbendung.

Rasa sakit pasca operasi ditambah rasa sakit kehilangan bayiku semua bercampur menjadi satu. Semua orang mencoba menguatkanku, semuanya menghiburku. Ternyata aku masih berlarut dalam kesedihanku. Aku selalu menangis setiap harinya, apalagi ketika ASI ku mengalir deras. Berlipat ganda rasa sakit yang kurasakan.

Hingga saat ini menjelang 2 bulan kepergiannya, aku masih merasakan kesedihan itu. Tapi aku harus mencoba mengikhlaskan kepergiannya. Sekarang bayiku sudah berbahagia di surga. Allah lebih menyayanginya, sekarang Allah yang akan menjaganya. Semoga kelak dia akan menjadi malaikat kecil yang menolong ayah dan bundanya untuk ke surga bersama.

(Cerita Bunda Chayra)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email redaksi@haibunda.com. Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

Bunda, simak juga mengenai tali pusar bayi dalam video di bawah ini ya:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi