sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Astagfirullah.. Baby Blues Membuatku Nyaris Mencekik Mati Si Kecil

Sahabat HaiBunda Rabu, 06 Oct 2021 17:20 WIB
Aku Stres dan Hampir Cekik Anak, Ya Allah...!
Asian Mother nursery feeding bottle of formula milk to newborn baby in bed suffering from post natal depression. Health care single mom motherhood stressful concept. Ilustrasi baby blues/Foto: iStock

Setelah Minggu kedua pernikahan, aku dibawa oleh suamiku tinggal di Jakarta dan barulah terlihat semua sifat asli suamiku. Cemburuan, pemarah, egois, dominan, dan selalu curiga.

Semua kontak pria di HP-ku dihapus, tak bersisa. Aku tak boleh bersosial media, tak boleh main game, tak boleh mengobrol dengan tetangga, tak boleh menggunakan ponsel jika ia ada di rumah, tak boleh ini, tak boleh itu.

Mulai saat itu aku merasa hidupku terkekang karena sebelum menikah aku aktif dengan berbagai kegiatan organisasi. Belum lagi aku diminta untuk menjadi ibu rumah tangga dan mengerjakan semua pekerjaan rumah, mulai dari masak, cuci baju, cuci piring, menyapu, dan lainnya. Sedangkan aku sejak kecil tak pernah melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut karena orang tuaku mempekerjakan ART.


Suamiku? Tak sedikitpun ia membantu.

Satu bulan pun berlalu, aku belum juga hamil. Suamiku yang saat itu berusia 31 tahun sudah sangat menginginkan anak. Aku ditekan dan diminta makan ini-itu sesuai anjuran keluarganya agar aku cepat hamil. Alhamdulillah, setelah bulan kedua pernikahan,Tuhan percayakan aku untuk mengandung.

Ternyata hamil tak membuat suamiku berubah. Semasa mengandung, aku sangat sering menangis ketika selisih paham dan kesal dengan suamiku atau ketika aku lelah dan stres dengan pekerjaan rumah yang tak pernah habis. Keadaan rumah tangga kami semakin tidak stabil setelah usaha suamiku bangkrut karena dampak pandemi. Kami harus pindah ke kontrakan yang lebih kecil, mobil dijual, sedangkan uang tabungan sudah habis terkuras untuk acara resepsi di gedung mewah karena permintaan orang tuaku.

Perekonomian keluarga kami kacau, sedangkan aku yang sedang hamil tak diperbolehkan bekerja oleh suamiku. Belum lagi keluarga besarku yang bertanya kapan aku akan bekerja dan terus memperingatkan bahwa jangan sampai aku hanya menjadi ibu rumah tangga setelah disekolahkan tinggi.

Ditambah konflik antara suamiku dengan saudara kandungnya. Suamiku adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara, sehingga kehidupan rumah tangga kami sering dicampuri oleh mereka. Aku difitnah, dibilang tidak becus mengurus rumah tangga, cuek tidak pernah menghubungi dan mengakrabkan diri dengan keluarga, dan dicap sebagai penyebab suamiku bangkrut.

Keadaanku saat itu sangat terpuruk dan aku hanya bisa menangis meratapi nasibku. Aku menjaga rahasia dan semua kepahitan dari orang tuaku karena aku tak ingin mereka khawatir.

Akhirnya setelah sembilan bulan, aku melahirkan. Orang tuaku datang menjenguk untuk melihat cucu pertama mereka. Aku melahirkan putra mungil yang tampan. Selama hamil bayiku di vonis IUGR (pertumbuhan janin terganggu) sehingga beratnya tidak sesuai usia kehamilan. Betapa khawatirnya aku ketika saat lahir, tubuh bayiku biru tak menangis. Bidan sibuk menepuk-nepuknya dan menyedot lendirnya hingga akhirnya ia menangis.

Akupun ikut menangis. Akhirnya kami bertemu. Anakku, yang menjadi kekuatanku selama ini. 

Kehidupanku penuh suka cita di satu minggu anakku lahir. Aku tak perlu melakukan pekerjaan rumah tangga karena orang tuaku menyewa orang serta membeli makan siap saji. Tak berlangsung lama, seminggu kemudian orang tuaku pulang karena harus kembali bekerja.

Semua pekerjaan rumah kembali aku yang mengerjakan. Belum lagi kurang tidur karena harus menyusui dan mengganti popok anakku. Sikap suamiku memang sedikit berubah setelah melihat perjuanganku melahirkan putranya, namun ia tetap tak membantu pekerjaan rumah.

Rasa lelah, stres, dan hormon membuatku hilang kendali. Malam itu, aku hampir membunuh anakku. Suamiku harus bekerja shift malam sehingga aku tinggal di kontrakan berdua dengan anakku yang masih berusia 12 hari.

Tubuhku yang lelah dan membutuhkan istirahat setelah seharian melakukan pekerjaan rumah terbangun karena rengekan anakku. Entah kenapa malam itu ia sangat rewel dan terus menangis hingga jam 2 malam. Aku ganti popoknya, kususui, dan kubacakan do'a, akhirnya jam setengah 3 ia pun tertidur. Aku kembali tidur.

Namun Lagi-lagi, kudengar tangisannya jam 3 subuh. Emosiku memuncak, dan entah setan apa yang ada di dekatku saat itu, kuambil anakku, kudekap ia erat-erat di dadaku, sangat kuat, seolah-olah aku ingin membunuhnya.

Tapi aku segera tersadar dan beristighfar. Astagfirullah…astagfirullah…!

Aku menangis tengah malam itu, tak peduli dengan tetangga, hanya menangis dan berteriak sejadi-jadinya. Aku tatap wajah anakku, aku dekap ia kembali penuh penyesalan. Tak henti-hentinya aku menangis dan meminta ampun.

Kepada anakku pun aku tak henti meminta maaf. Sepertinya kusadari bahwa aku mengalami Baby Blues. Akhirnya aku tak bisa tidur hingga pagi menjelang. Suamiku pulang, melihat kondisiku yang sudah seperti orang tak waras.

Rambutku berantakan, mataku bengkak dan sayu, aku diam seribu bahasa dengan tatapan kosong. Dengan penuh kelembutan, suamiku memeluk dan mengelus kepalaku.

"Ada apa?" Tanyanya.

Aku diam, masih dengan tatapan kosong.

"Maaf ya. Aku tidak memperlakukanmu dengan baik selama ini, padahal kamu adalah istri terbaik yang Allah berikan kepadaku. Terima kasih ya, kamu sudah banyak berjuang untuk keluarga kita. I love you, now, tomorrow and till jannah, Insya Allah. Aku janji akan menjadi suami yang lebih baik,” ujarnya.

Hingga kini masih teringat jelas kalimat yang waktu itu dilontarkan oleh suamiku. Selama kami menikah, tak pernah sekalipun ia mengatakan bahwa ia mencintaiku, akhirnya air mataku tumpah ruah. Aku kembali menangis, namun tanpa suara.

Kami berpelukan dalam diam. Setelah aku tenang, suamiku membuatkan susu coklat hangat kesukaanku dan akhirnya aku menceritakan semua yang kurasakan selama ini.

Alhamdulillah, sejak saat itu suamiku terus berubah menjadi lebih baik. Semua peraturan yang kurasa memberatkan sudah dicabut, kecuali peraturan tentang hubungan dengan laki-laki. Sekarang rumah tangga kami sudah semakin baik, akupun juga mulai terbiasa dengan tugas sebagai ibu rumah tangga.

Jagoan kecilku pun sekarang tumbuh dan berkembang dengan baik. Aku benar-benar bersyukur kepada Tuhan karena sekarang aku merasa bahagia.



(Bunda MM, Jakarta)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke [email protected] yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

(ziz/ziz)
HALAMAN :
ARTIKEL SELANJUTNYA
Share yuk, Bun!

Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi
Bunda sedang hamil, program hamil, atau memiliki anak? Cerita ke Bubun di Aplikasi HaiBunda, yuk!