kehamilan

Bun, Yuk Cegah Gizi Buruk dan Kurang Sejak Masa Kehamilan

Annisa Karnesyia Sabtu, 17 Aug 2019 18:36 WIB
Bun, Yuk Cegah Gizi Buruk dan Kurang Sejak Masa Kehamilan
Jakarta - Masalah gizi buruk dan kurang masih mengancam anak-anak di Indonesia. Sangat menyedihkan, karena bukan cuma daerah tertinggal tapi juga terjadi di daerah perkotaan, Bun.

Sebenarnya, masalah ini bisa dicegah, asalkan kita sadar dan mau membuat perubahan. Manager Global Medic Action Aksi Cepat Tanggap (ACT), dr.Rizal Alimin mengaitkan masalah ini dengan investasi di masa depan.

"Jadi investasi satu dolar untuk perbaikan gizi, return-nya 16 dolar. Artinya hal ringan sekecil apapun yang kita lakukan bisa memberi dampak besar," kata Rizal, dalam Media Gathering 'Berbagi Harapan dengan Aksi' bersama Cadbury di Gandaria City Mall, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, baru-baru ini.


Permasalahan gizi buruk dan kurang pada anak bisa dicegah sebelum ibu hamil. Rizal mengibaratkan kalau kecerdasan anak sama dengan kecerdasan ibunya.

"Perempuan kurang gizi, jadi lemas, rahimnya terpengaruh. Saat anak lahir, ibunya kurang gizi, produktivitas dan daya pikir anak akan kurang," ujar Rizal.

Selain itu perhatikan juga faktor pemberian ASI, pola makan si kecil, dan budaya. Menurut Rizal, banyak orang di Indonesia tidak terbiasa dengan pemberian ASI eksklusif di 6 bulan pertama usia anak. Akibatnya banyak terjadi kekurangan gizi.

Ilustrasi ibu menyusui/Ilustrasi ibu menyusui/ Foto: thinkstock

Lalu ada juga anggapan pola makan yang salah pada beberapa orang tua. Anggapan ini termasuk soal kebutuhan nutrisi yang diasup anak.

"Kita terbiasa asal kenyang saja. Malah ada kebiasaan makan yang dijadikan kebudayaan di beberapa daerah, misalnya anak tidak makan ikan, daging, buah, dan minum susu. Dampaknya anak hanya tumbuh dari karbohidrat dan lemak saja," paparnya.

Ada tiga tahapan yang menurut Rizal bisa dilakukan untuk menyadarkan masyarakat tentang gizi buruk dan kurang. Di antaranya, tahap pemulihan, edukasi, dan pemberdayaan.

Pada tahap pemulihan, kita bisa lakukan pemeriksaan, intervensi, dan monitoring. Sedangkan pada tahap edukasi, diharapkan masyarakat bisa dibekali dengan pengetahuan soal ASI eksklusif, pola makan yang sesuai, sanitasi, dan kesehatan secara umum.

"Karena gizi buruk dan kurang dekat dengan kemiskinan dan kemiskinan dekat dengan masalah ekonomi, maka perlu pemberdayaan," pungkas Rizal.

Selain bisa mencegah kekurangan gizi, ASI eksklusif bisa lindungi anak dari kanker darah. Yuk, simak penjelasannya di video berikut, Bun.

[Gambas:Video 20detik]

(ank/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi