sign up SIGN UP search


kehamilan

3 Kondisi yang Membuat Hubungan Seksual Dilarang Saat Hamil

Dr. dr. Suskhan Djusad, Sp.OG (K) Jumat, 25 Jun 2021 13:46 WIB
Hamil caption
Jakarta -

Saat hamil, banyak pasangan yang memilih 'puasa' untuk berhubungan seks. Biasanya, para Ayah merasa takut menyakiti janin di kandungan istrinya.

Pada faktanya, melakukan hubungan seksual selama hamil itu tidak berbahaya, Bunda, alias aman untuk janin. Ya, janin dalam kandungan tidak akan terganggu karena terlindungi dengan baik di rahim ibunya.

Meski begitu, aturan berhubungan seksual yang berbeda di tiap trimester kehamilan. Ada risiko-risiko yang perlu diketahui pasangan suami istri saat memutuskan untuk berhubungan intim.


Nah, agar tidak merasa takut melakukan hubungan intim saat hamil pahami aturannya sebagai berikut:

Trimester 1

Saat ingin melakukan hubungan seks di trimester satu, pasangan suami istri perlu melihat dulu, apakah ada riwayat sulit memiliki anak atau tidak? Kalau sulit memiliki anak, biasanya kedua pasangan akan takut melakukan hubungan seksual. Kalau sudah takut, tak ada yang bisa dilakukan selain menunda berhubungan seksual sampai melahirkan.

Tapi, apabila suami istri yakin hal itu tidak akan membahayakan janinnya maka hubungan seksual tetap dilakukan. Meski begitu, ada syarat yang harus diperhatikan agar aktivitas ini tidak mengganggu kehamilan.

Saat berhubungan seksual, sperma tidak boleh dibuang di dalam atau masuk ke dalam rahim. Sebab, sperma mengandung prostaglandin yang bisa merangsang kontraksi pada otot rahim.

Dampak buruk kontraksi di trimester ini adalah terjadinya pendarahan hingga abortus. Untuk menghindari sperma masuk rahim, suami bisa menggunakan pengaman seperti kondom.

Trimester 2

Melakukan hubungan seksual di trimester 2 kehamilan juga memiliki prinsip yang sama seperti trimester 1. Bunda tetap boleh melakukan hubungan seksual, asalkan sperma suami tidak dibuang di dalam atau tidak masuk ke dalam rahim istri.

Namun, saat usia kehamilan sudah mendekati akhir trimester dua atau sekitar 30 minggu, sperma boleh dikeluarkan di dalam, Bunda. Dengan catatan, usia janin sudah lebih tua. Sehingga, apabila terjadi kontraksi kondisi bayi sudah siap untuk dilahirkan, di kisaran akhir trimester 2.

Di trimester ini, dorongan seksual wanita bisa meningkat. Faktor estrogen dan progesteron dapat memengaruhi dorongan seks selama kehamilan. Namun, kebanyakan hal ini disebabkan faktor psikologis, yakni perasaan istri yang ingin dekat terus dengan suaminya.

Saat melakukan hubungan seksual, Bunda juga perlu hati-hati saat mencapai orgasme. Bila wanita mengalami oergasme, dia bisa mengalami kejang dan bayi di dalam kandungannya bisa kaget.

Trimester 3

Di trimester 3, hubungan seksual tetap bisa dilakukan dan bermanfaat untuk persiapan melahirkan normal. Di usia kehamilan ini, sperma boleh dibiarkan masuk ke rahim untuk memicu kontraksi bila belum muncul jelang persalinan ya.

Meski diperbolehkan, berhubungan seksual di trimester ini mungkin dihindari beberapa pasangan suami istri. Sebab, kondisi perut Bunda yang sudah besar seringkali menimbulkan rasa tidak nyaman untuk melakukan hubungan seksual.

Selain itu, vagina mungkin akan terasa nyeri karena hormon progesteron meningkat di trimester ini. Peningkatan hormon ini dapat menyebabkan vagina menjadi kering.

Batas aman melakukan hubungan seksual

Berhubungan seksual selama hamil memang aman. Meski begitu, wanita perlu memerhatikan kondisi tubuh yang gampang lelah.

Selama kehamilan, wanita bisa melakukan hubungan seksual dengan frekuensi satu sampai dua kali per minggu. Semuanya ini tergantung dari keinginan dan kondisi si wanita.

Kondisi ibu hamil dilarang berhubungan seksual

Meskipun pada dasarnya hubungan seks diperbolehkan saat hamil, tapi Bunda juga perlu tahu bahwa tiga kondisi di bawah ini dilarang untuk melakukan hubungan seks.

1. Mengalami plasenta previa

Ibu hamil dilarang melakukan hubungan seksual bila mengalami plasenta previa. Kondisi ini bisa berisiko menyebabkan pendarahan selama kehamilan.

Plasenta previa adalah kelainan letak plasenta pada kehamilan. Normalnya, plasenta berada di atas, di fundus, bukan di jalan lahir. Namun saat ibu hamil mengalami plasenta previa, posisi plasenta menutupi jalan lahir sehingga tidak bisa melahirkan normal.

Kebanyakan Ibu hamil yang mengalami plasenta previa harus melahirkan dengan operasi caesar. Hingga saat ini, angka ibu hamil yang mengalami plasenta previa cukup tinggi di Indonesia, yakni sekitar 5 persen.

2. Hamil bayi kembar

Ibu yang hamil bayi kembar juga perlu berpikir dua kali untuk melakukan hubungan seksual. Bukannya dilarang, ibu hanya perlu hati-hati agar tidak mengalami kontraksi, sehingga bayi lahir lebih cepat dari waktunya.

3. Mengalami keputihan

Keputihan selama hamil perlu diwaspadai bila Bunda ingin melakukan hubungan seksual. Keputihan bisa menyebabkan asenden infeksi dari bawah ke atas, yakni dari vagina ke ostium uteri internum.

Keputihan ini menjadi kontraindikasi relatif pada ibu hamil yang melakukan hubungan seksual. Sebab, infeksi yang disebabkan keputihan nantinya bisa berbahaya bagi janin. Untuk mengatasinya, Ayah dan Bunda perlu ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Setelah memahami kondisi yang dilarang hubungan seks, Bunda harus tahu posisi seks yang aman saat hamil di halaman selanjutnya!

Simak juga ya penjelasan lain mengenai hubungan seks saat hamil di dalam video di bawah ini: 

[Gambas:Video Haibunda]



TIPS AMAN BERHUBUNGAN SEKS SAAT HAMIL
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
Share yuk, Bun!

Menanti kelahiran Si Kecil dengan arti nama bayi yang pas untuknya nanti hanya di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi
Ikuti perkembangan kehamilan Bunda setiap minggunya di Aplikasi HaiBunda yuk, Bun!