sign up SIGN UP search


menyusui

Benarkah Alat Kontrasepsi Bisa Pengaruhi Produksi ASI?

Annisa Afani Rabu, 23 Dec 2020 17:15 WIB
Ibu menyusui caption
Jakarta -

Hamil lagi dalam jangka waktu dekat setelah melahirkan bisa menjadi hal yang sulit untuk tubuh dan emosi wanita. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun merekomendasikan setidaknya menunggu selama setidaknya 24 bulan sebelum hamil kembali.

Selain itu, dalam kebanyakan kasus dikatakan bahwa melakukan hubungan seksual sampai 6 minggu setelah melahirkan masih dianggap rawan, Bunda. Ini karena vagina wanita yang baru melahirkan secara normal mungkin masih belum pulih sepenuhnya dari robekan yang terjadi.

Hal lain yang perlu diketahui, berhubungan seksual juga dapat meningkatkan risiko wanita hamil lagi saat masih harus memberikan air susu ibu (ASI) pada bayi. Oleh karena itu, bagi pasangan yang aktif secara seksual, ada baiknya mulai memikirkan pemakaian kontrasepsi untuk mencegah kehamilan pada masa pasca persalinan.


Meskipun menyusui itu sendiri seringkali dapat menekan ovulasi dan berfungsi sebagai metode pengendalian kelahiran. Bagi sebagian wanita, namun ini tidak sepenuhnya dapat diandalkan, sehingga perlu untuk menggunakan alat kontrasepsi.

Apakah kontrasepsi memengaruhi produksi ASI?

Mengutip dari Pandia Health, penggunaan kontrasepsi saat menyusui sebenarnya aman, Bunda. Namun, ibu menyusui dianjurkan untuk menunggu sampai proses menyusui berjalan setidaknya selama enam minggu atau lebih untuk memastikan produksi ASI yang dimiliki cukup. Itu karena beberapa alat kontrasepsi dengan metode berbasis hormon ada yang dapat menurunkan produksi ASI.

"Sebagian besar metode kontrasepsi yang digunakan wanita tidak dianggap berbahaya bagi bayi yang disusui, tetapi beberapa bentuk kontrasepsi dapat sangat berbahaya bagi produksi ASI," kata konsultan laktasi Kelly Bonyata, dikutip dari Kelly Mom.

Kontrasepsi kombinasi mengandung progesteron dan estrogen, yang tersedia dalam bentuk pil KB dengan estrogen, koyo KB, dan cincin vagina. Kontrasepsi yang mengandung hormon estrogen dikaitkan dengan produksi ASI yang rendah dan durasi menyusui yang lebih pendek. Karena itu, wanita yang menyusui, mungkin harus berhati-hati mencoba metode kontrasepsi jenis ini.

Namun tidak semua ibu yang menggunakan kontrasepsi mengandung estrogen akan menyebabkan produksi ASI menjadi rendah, tapi ibu yang tidak terpengaruh hanya minoritas. Karena itu, ibu menyusu tidak disarankan menggunakan metode kontrasepsi ini atau bentuk serupa.

"Ibu yang memiliki masalah dengan produksi ASI dan mereka yang menyusui anak yang lebih besar berusia 1 tahun atau lebih harus sangat berhati-hati (menggunakan kontrasepsi ini)," ujar penulis Medications and Mothers Milk, Thomas Hale.

Pilihan kontrasepsi aman untuk ibu menyusui

Ada beberapa jenis alatĀ kontrasepsi yang bisa dan dianggap aman digunakan oleh ibu menyusui. Merangkum dari berbagai sumber, berikut ini di antaranya:

1. Kontrasepsi progestin

Kontrasepsi khusus progestin adalah metode kontrasepsi hormonal, yang memerlukan resep dokter, Bunda. Namun progestin tidak akan membahayakan beyi atau menyebabkan produksi ASI menurun.

Metode kontrasepsi progestin cenderung lebih efektif daripada alternatif non-hormonal. Metode ini meliputi IUD dengan hormon, progestin only pills (POPs), implan, dan suntikan (depo-provera).

  • IUD

IUD menjadi salah satu yang paling banyak digunakan, Bunda. Jenis kontrasepsi ini diketahui dapat mencegah kehamilan hingga 99 persen tanpa harus memasukkan hormon ke dalam tubuh.

"Bagi kebanyakan ibu, kontrasepsi yang hanya mengandung progestin tidak menyebabkan masalah dengan suplai ASI jika dimulai setelah minggu ke 6-8 pasca melahirkan dan jika diberikan dengan dosis normal," kata Bonyata.

Jika tertarik pada salah satu bentuk kontrasepsi progestin yang lebih tahan lama, ibu menyusui bisa menggunakan suntikan Depo-Provera yang dapat bertahan dan berlangsung setidaknya selama 12 minggu. Namun, efeknya dapat dilihat hingga satu tahun. Untuk IUD dan implan dapat bertahan 3-5 tahun.

  • Pil Mini (POPs)

Pil mini adalah metode pengendalian kelahiran khusus progestin. Tidak seperti pil KB kombinasi, pil mini tidak mengandung estrogen, sehingga tidak akan mengganggu suplai ASI.

  • Nexplanon

Nexplanon juga dikenal sebagai implan kontrasepsi. Implan ini dimasukkan di bawah kulit lengan, di mana ia terus- menerus melepaskan progestin dalam dosis rendah selama tiga tahun untuk memberikan perlindungan dari kehamilan. Ini dapat dihilangkan kapan saja selama periode tiga tahun.

  • Depo-Provera

Depo-Provera adalah suntikan yang secara perlahan melepaskan progestin ke dalam aliran darah selama 11 hingga 14 minggu. Dengan metode ini, wanita tidak akan hamil selama mendapatkan suntikan. Karena itu, penting mendapatkan suntikan yang dijadwalkan tepat waktu untuk mencegah efektivitasnya.

2. Metode Non-hormonal

Dengan beberapa pengecualian, pilihan KB non-hormonal ini tersedia tanpa resep dokter. Banyak menganggap ini adalah metode penghalang karena bertindak seperti dinding untuk menghalangi sperma mencapai sel telur. Beberapa jenis alat kontrasepsi ini, seperti:

  • Kondom

Kondom ada dua, yakni kondom pria dan wanita. Kondom pria tersedia dalam berbagai jenis, ukuran, dan bahan. Kondom digunakan untuk menutupi alat vital pria sebelum, selama, dan setelah ejakulasi.

Sementara kondom wanita merupakan alat kontrasepsi yang terdiri dari kantong berbahan poliuretan dengan cincin fleksibel di setiap ujungnya. Ini menahan dan menghalangi sperma masuk ke tubuh wanita.

  • Spermisida

Spermisida memiliki berbagai bentuk tapi bekerja dengan cara yang sama. Produk ini dimasukkan ke dalam vagina sebelum berhubungan intim, yang berfungsi untuk memblokir sperma. Produk ini biasanya mengandung nonoxynol-9, spermisida yang melumpuhkan atau menghancurkan sperma.

  • Today sponge

Ini berbentuk busa bundar dengan simpul nilon. Today sponge menghalangi serviks untuk mencegah sperma masuk. Sponge juga melepaskan spermisida, yang dapat menghentikan sperma menuju sel telur.

  • Diafragma

Ini harus dipasang oleh dokter dan tidak dapat digunakan sampai enam minggu sejak melahirkan. Alat ini dimasukkan ke dalam vagina untuk memblokir sperma.

  • ParaGard

ParaGard adalah IUD bebas hormon, di mana tembaga dililitkan di sekitar perangkat, yang bertindak sebagai spermisida. Kontrasepsi ini memberikan 10 tahun perlindungan kehamilan, tetapi dapat dilepas kapan saja jika wanita ingin hamil.

3. Metode alami

Metode ini tidak tergantung pada perangkat maupun hormon. Metode ini terdiri dari perilaku yang dapat wanita lakukan untuk menghindari kehamilan. Metode ini, yakni pemberian ASI berkelanjutan atau Metode Amenore Laktasi (LAM) dan keluarga Berencana Alami (KBA).

  • LAM

Seperti yang dijelaskan di atas, pemberianĀ ASI berkelanjutan atau LAM berpotensi menunda ovulasi hingga enam bulan setelah melahirkan. Namun sebaiknya tidak mengandalkan metode ini lebih dari enam bulan atau jika sudah mengalami menstruasi sejak melahirkan.

  • KBA

Metode ini mengandalkan pemantauan perubahan tubuh untuk menentukan kapan ovulasi terjadi. Ini menggunakan metode berbasis gejala dan kalender. Meski tidak ada aturan yang menyatakan KBA tidak dapat dianggap sebagai pilihan kontrasepsi untuk ibu menyusui, namun WHO memperingatkan bahwa metode kesadaran kesuburan mungkin kurang efektif untuk wanita menyusui, Bunda.

Bunda, simak juga cara aman cegah kehamilan bagi ibu menyusui dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

Banner Susy SusantiFoto: HaiBunda



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi