sign up SIGN UP search


menyusui

10 Penyebab & Tanda Radang Kelenjar Susu pada Ibu Menyusui, Bunda Perlu Tahu

Annisa Karnesyia Rabu, 09 Jun 2021 15:15 WIB
Ibu menyusui caption
Jakarta -

Menyusui bisa menjadi berat bila timbul masalah di payudara hingga memengaruhi rasa ASI. Salah satu yang sering dialami para Bunda adalah radang kelenjar susu.

Menurut Encyclopedia of Dairy Sciences (Second Edition) tahun 2011, radang kelenjar susu dikenal juga dengan istilah mastitis. Kondisi ini ditandai dengan adanya peningkatan jumlah sel somatik dalam susu dan perubahan patologis pada jaringan payudara, Bunda.

Mastitis adalah peradangan atau infeksi pada payudara yang umum terjadi pada enam minggu pertama kehidupan bayi. Meski begitu, mastitis juga bisa terjadi kapan pun selama Bunda masih menyusui si Kecil ya.


"Penting untuk mengenali tanda-tanda mastitis karena semakin dini dikenali, semakin mungkin untuk ditangani," kata konselor laktasi, F.B. Monika, dalam Buku Pintar ASI dan Menyusui.

Penyebab radang kelenjar susu

Dilansir berbagai sumber, berikut 10 penyebab radang kelenjar susu pada Bunda yang menyusui:

1. Pelekatan menyusu tidak benar atau bayi tidak sering menyusu.

2. Bayi tidak menyusu dalam waktu lama di setiap sesinya.

3. Bunda atau bayi sedang sakit.

4. Menyapih terlalu dini atau tidak secara bertahap.

5. Menggunakan bra menyusui yang ketat.

6. Teknik atau cara menyusui buah hati salah.

7. Bunda melakukan olahraga berat, terutama yang banyak menggerakkan anggota tubuh bagian atas.

8. Kelelahan atau stres berlebihan.

9. Gizi atau nutrisi yang buruk.

10. Pengosongan payudara yang kurang baik, sehingga menyebabkan saluran ASI tersumbat dan infeksi

Tanda radang kelenjar susu

1. Umumnya terjadi pada satu payudara. Namun, bisa saja terjadi di kedua payudara dan penanganannya akan jauh lebih sulit.

2. Hanya terjadi pada sebagian payudara. Bunda perlu membedakan mastitis dengan bengkak biasa yang terjadi di seluruh payudara ya.

3. Terdapat daerah kemerahan yang terbatas di kulit (erythema). Area ini akan terasa keras, terasa sakit, panas, dan mungkin bengkak, tetapi payudara lainnya akan terasa lunak dan puting tidak terpengaruh

4. Pengeluaran ASI tidak dapat membantu dalam mengurangi rasa keras pada area yang merah. Kondisi ini berbeda saat payudara Bunda bengkak.

5. Radang kelenjar susu yang dialami Bunda bisa disertai demam berkepanjangan atau lebih dari 24 jam.

6. Bentuk ASI atau ASI perah terlihat lebih kental, menyerupai gelatin dan rasanya lebih asin. ASI ini masih aman untuk diberikan ke buah hati, namun mungkin saja bayi akan menolaknya.

Diagnosis radang kelenjar susu

Jika Bunda merasa mengalami radang kelenjar susu, maka sebaiknya segera ke dokter ya. Dokter akan memeriksa payudara Bunda untuk mencari solusinya.

Radang kelenjar susu atau mastitis dapat didiagnosis tanpa pemeriksaan dan tes tambahan. Namun, bila kondisi tetap memburuk, dokter akan melakukan tes seperti:

1. Kultur ASI

Kultur ASI bisa dilakukan bila infeksi sudah parah dan tidak bisa ditangani dengan minum antibiotik. Kultur ASI hanya bisa dilakukan di rumah sakit dan jarang diterapkan pada kondisi mastitis.

2. Ultrasonografi (USG)

USG payudara dapat dilakukan bila kondisi tidak membaik dalam waktu 48 hingga 72 jam. Mengutip laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), USG dapat digunakan untuk pemantauan mastitis.

Kejadian mastitis yang berulang dan lebih dari dua kali pada tempat yang sama bisa menjadi alasan dilakukannya USG. Pemeriksaan dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya massa tumor, kista, atau galaktokel.

3. Kultur darah

Pemeriksaan kultur darah juga bisa untuk mengetahui kondisi mastitis, Bunda. Pemeriksaan ini dilakukan bila kemerahan di payudara terus memburuk dan tanda-tanda vital menjadi tidak stabil.

Ibu menyusuiIbu menyusui/ Foto: iStock

Apa harus berhenti menyusui?

Radang kelenjar susu memang bisa menimbulkan rasa tidak nyaman karena payudara Bunda terasa sakit dan bengkak. Meski begitu, kondisi ini sebaiknya tidak menjadi halangan untuk berhenti menyusui ya.

Menyusui tetap dianjurkan saat Bunda mengalami radang kelenjar susu. Tahukah Bunda, menyusui justru dapat mempercepat proses penyembuhan radang kelenjar susu lho.

Menurut National Health Service (NHS), berhenti menyusui justru akan menyebabkan penyumbatan saluran ASI semakin parah. Bahkan bila Bunda mengalami infeksi, menyusui tidak akan membahayakan bayi, meski rasa ASI berubah.

Saat mengalami radang kelanjar susu, pastikan Bunda menyusui buah hati dengan benar. Cobalah cari cara untuk membuat waktu menyusui nyaman.

Tips menyusui saat mengalami radang kelenjar susu

1. Pastikan bayi menyusui dengan benar pada payudara yang sakit. Coba tawarkan payudara yang sakit terlebih dulu.

2. Kompres payudara, lakukan pijatan, serta seringlah mengosongkan payudara. Kompres hangat dapat dilakukan sebelum menyusui, sementara kompres dingin dilakukan setelah menyusui dan di antara waktu menyusui.

3. Perhatikan asupan nutrisi Bunda selama menyusui ya. Perbanyak minum air putih dan jangan lupa sisihkan waktu untuk istirahat.

4. Ubah posisi setiap kali menyusui untuk membantu mengosongkan area payudara.

5. Pompa payudara dengan tangan setelah menyusui untuk membantu pengeluaran ASI lebih banyak.

6. Menyapih secara bertahap untuk mencegah pembengkakan, saluran ASI tersumbat, dan radang kelenjar susu.

7. Jika menggunakan bantalan menyusui, maka Bunda perlu menggantinya ketika sudah basah untuk menghindari bakteri.

Pengobatan radang kelenjar susu

Jika Bunda sudah melakukan pengecekan ke dokter dan sudah dipastikan terkena radang kelenjar susu, maka dokter biasanya akan meresepkan obat sebagai berikut:

1. Antibiotik

Beberapa jenis antibiotik bisa mengurangi infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Pastikan Bunda menggunakan antibiotik yang diresepkan oleh dokter ya.

2. Ibuprofen

Ibuprofen biasanya diberikan untuk menghilangkan rasa sakit, demam dan pembengkakan yang disebabkan oleh mastitis.

3. Acetaminophen

Acetaminophen juga digunakan untuk menghilangkan rasa sakit dan demam.

(ank/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi