sign up SIGN UP search


parenting

Ini Kesulitan Bayi Baru Lahir di Masa Transisi, Bunda Perlu Pahami

Melly Febrida Kamis, 13 Feb 2020 11:59 WIB
Bayi baru lahir tentu bergantung sepenuhnya pada orang tua, terutama Bunda. Perbedaan lingkungan bayi di dalam dan luar rahim perlu Bunda pahami. caption
Jakarta - Kehidupan bayi ketika masih di dalam rahim dan setelah lahir ke dunia tentu berbeda. Para bayi ini pun butuh masa transisi sekitar 12 minggu. Untuk itu, ketahui perbedaannya agar Bunda bisa merawatnya dengan baik.

Sarah Ockwell-Smith, spesialis metode Gentle Parenting menjelaskan, manusia yang baru lahir bisa dibilang sepenuhnya bergantung pada orang tuanya untuk memenuhi semua kebutuhan mereka selama berbulan-bulan.


"Otak dan tubuh bayi yang baru lahir, ketika berkembang dan tumbuh dengan cepat, membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri 'di bumi', dan selama masa transisi ini bayi membutuhkan orang tua mereka agar mereka tetap aman, secara fisik dan emosional," kata Ockwell-Smith, dalam buku The Gentle Parenting Book.


Cara termudah orang tua untuk memenuhi kebutuhan ini, dan mengurangi sebanyak mungkin waktu bayi menangis, Ockwell Smith menyarankan untuk lebih memperhatikan bayi dalam 12 minggu pertama kehidupan mereka, atau disebut 'trimester keempat'. Usahakan, dalam trimester ke empat ini meniru kehidupan dalam rahim.

Bunda bisa memahami masa transisi yang dirasakan bayi baru lahir, dengan melihat beberapa perbedaan ketika berasa di dalam rahim dan ketika sesudah lahir:

Lingkungan bayi selama kehamilan:

1. Gelap selama 24 jam per hari.
2. Suara tubuh ibu dan suara eksternal sangat redup.
3. Konstan nyaman, suhu hangat (rata-rata 37 derajat Celsius).
4. Nutrisi konstan melalui tali pusar tidak ada konsep rasa lapar atau haus.
5. Ruang yang sangat terbatas.
6. Lingkungan akuatik.
7. Konstan berada di rahim ibu dan dalam kontak fisik permanen dengan anak-anaknya.
8. Bugil.
9. Seluruh lingkungan hangat dan lembut.
10. Kemampuan mencium masih terhalang air

Ibu dan bayi baru lahirIbu dan bayi baru lahir/ Foto: iStock
Lingkungan setelah kelahiran:

1. Cahaya alami selama setidaknya 10 jam per hari dan cahaya buatan pada malam hari.
2. Kontras total antara keheningan total (seringkali pada malam hari) dan bising dengan suara yang tak terduga dan dapat berubah-ubah.
3. Suhu yang berfluktuasi, sering kali terlalu dingin atau terlalu panas.
4. Sering lapar dan haus.
5. Banyak ruang di sekitar mereka.
6. Berjam-jam dihabiskan berbaring sendirian tidak dalam kontak fisik dengan ibu.
7. Berpakaian.
8. Banyak lingkungan yang keras dan dingin.
9. Banyak aroma baru setiap hari.

Melihat perbedaan tersebut, kata Ockwell-Smith, bisa dibayangkan betapa terkejutnya bayi yang baru dilahirkan dengan kehilangan semua yang pernah dirasakan dalam rahim.

Di trimester keempat ini mungkin transisi yang paling penting dari semuanya adalah berkurangnya kontak fisik dengan ibu, tidak 24 jam lagi.


"Ini adalah penyesuaian yang paling sulit pada bayi baru lahir dan sering yang paling sulit diatasi orangtua baru, padahal sebagian besar bayi baru lahir hanya bahagia 'dalam pelukan'," kata Ockwell-Smith.

Sayangnya, di dalam masyarakat orang tua mencoba tak sering-sering menggendong karena takut 'bau tangan'. Tujuannya mendorong kemandirian dan untuk menghindari 'merusak' mereka.

Ilustrasi bayiIlustrasi bayi/ Foto: iStock

Menurut Ockwell-Smith, bayi yang baru lahir perlu digendong hampir sebanyak mereka membutuhkan ASI. Ini adalah kebutuhan fisik maupun psikologis.

"Jadi, di tahun-tahun awal mereka, anak-anak kita membutuhkan kita untuk mengatur emosi mereka secara eksternal dengan menenangkan mereka sampai mereka dapat melakukannya sendiri. Dan untuk bayi baru lahir, ini berarti melakukan kontak fisik sedekat mungkin dengan mereka," ujar Ockwell-Smith.

Sementara itu, dr.Andrew Bernstein, MD, seorang dokter anak di Evanston, Illinois, Amerika Serikat (AS), mengatakan, bayi baru lahir yang kerap rewel di malam hari bisa jadi karena beberapa sebab. Salah satunya karena belum mempelajari siklus siang atau malam, tak heran bayi rentan rewel. Selain itu karena bayi tidak tahu cara mengekspresikan dirinya.

"Mereka terlalu bersemangat, mereka tidak tahu bagaimana menenangkan diri, jadi mereka perlu berteriak dan melepaskannya," tutur Bernstein, dikutip dari The Bump.


Wah ternyata demikian ya Bun transisinya. Berikutnya simak yuk 'drama' Eriska Rein saat menyusui anak pertamanya, Zayn, dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(muf/muf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi