sign up SIGN UP search


parenting

Anak Prasekolah Ngambek Enggak Mau Sekolah Daring, Bunda Harus Gimana?

Melly Febrida Rabu, 14 Oct 2020 13:43 WIB
Happy toddler girl with laptop and toys. Kid using computer to communicate with friends, elderly relatives or kindergartners. Education or online communication for kids. Stay at home entertainment caption

Pandemi COVID-19 membuat anak-anak harus sekolah secara daring. Tak terkecuali anak-anak prasekolah, yang harus melakukan kegiatan belajar melalui aplikasi online seperti Zoom. Rasa bosan pun kadang tak bisa dihindarkan karena anak-anak hanya menatap layar laptop ya, Bunda.

Meski kegiatan sekolah hanya berlangsung satu jam. Anak bisa tiba-tiba ngambek, “Aku nggak mau nge-zoom, aku mau main aja”. Pusing kan Bun harus bagaimana menghadapi anak yang mogok sekolah online?

Dalam buku Your Preschooler Bible, psikolog anak Dr Richard Woolfson, Ph.D, PGCE, MAppSci, CPsychol, FBPsS, mengatakan bahwa memang selama usia prasekolah, anak-anak dan orang tuanya ada kemungkinan bentrok. Namun orang tua sebaiknya tetap menghadapi dengan positif, berusaha sabar dan tidak dengan mengancamnya.

Anak prasekolah Anda memiliki lebih banyak ide sendiri dan berani menantang keputusan Anda karena dia menganggap dirinya lebih baik Anda,” kata Woolfson.

Menurutnya, ketika anak tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan, amarahnya akan meningkat. Anak sepenuhnya berpikiran tidak ada siapapun yang bisa menyuruhnya melakukan apapun, terutama ketika anak sedang melakukan sesuatu yang disukainya.

“Atasi hal itu dengan mempertahankan posisi Anda.  Jangan sampai Anda kehilangan kesabaran ketika berhadapan dengan anak prasekolah yang melawan, sederhananya ulangi saja apa yang Anda ingin anak lakukan,” jelas Woolfson.

Selain itu, kata Woolfson, orang tua juga bisa memberikan penjelasan mengapa Bunda ingin anak melakukan seperti Zoom meeting dengan Guru dan teman-teman. Paling penting, hindari diskusi yang panjang.

“Apabila Anda mengizinkan anak tak mengikuti permintaan Anda karena tantrum atau menangis, Anda akan mendapatkan frekuensi menangis dan ledakannya pun akan semakin meningkat,” ujar Woolfson.


Woolfson juga menyarankan apabila anak sering tidak mau berusaha melakukan apa yang Bunda minta, arahkan dengan lembut untuk melakukan tugas yang Bunda minta.

“Pujilah dia saat dia merespons dengan positif,” imbuhnya. 

Selain permasalahan menolak Zoom meeting, anak juga terkadang enggak mau mengerjakan tugas dari Guru dengan menjawab, “Aku tidak bisa melakukannya.” Padahal, Bunda tahu anak bisa melakukannya.

Woolfson mengatakan, pada saat ini orang tua pasti akan terkejut ketika, katakanlah anak tidak mau mencoba tugas baru karena bersikeras itu terlalu sulit.

“Akan ada saat-saat  ketika anak Anda mengalami krisis kepercayaan diri karena dia takut bahwa tantangan yang dihadapinya berada di luar kemampuannya. Dia akan lebih memilih untuk menolak mencobanya sama sekali, daripada mencobanya dan gagal,” katanya.

Apabila seperti ini, Bunda bisa meyakinkan anak bahwa aktivitas apa pun yang dia hindari , dia akan bisa melakukannya. Ingatkan anak juga bahwa dia pernah memecahkan hal serupa di masa lalu dan tunjukkan bahwa Bunda tidak akan kesal atau marah kalau ternyata itu sulit untuknya.

Supaya anak mau memulai, Woolfson menyarankan untuk berbagi tantangan bersamanya, dengan mempersilakan anak duluan. Bunda bisa memberikan bantuan sesekali apabila diperlukan, sehingga memungkinkan anak melangkah ke jenjang berikutnya.

“Jelaskan bahwa Anda tidak dapat melakukan segala sesuatunya, dan Anda hanya ingin anak melakukan yang terbaik,” kata Woolfson.

Selama anak berusaha, cobalah untuk  berbahagia. Ketimbang menyerah sebelum dia memulai. Anak-anak yang tak mau melakukan Zoom meeting bukan berarti enggak kangen dengan teman-temannya, Bunda. Kalau si kecil termasuk yang sulit diajak nge-Zoom, Bunda enggak sendirian. Tak perlu cemas ya.

Menurut Joshua Castillo, pelatih pengasuhan anak yang berbasis di Los Angeles dan konsultan anak usia dini, hanya sekitar sepertiga anak-anak yang senang berkomunikasi dengan teman-temannya melalui video. Banyak anak yang belum tertarik pada pertemanan virtual.

Begitu pula yang disampaikan Dr. Lori Baudino, seorang psikolog klinis yang spesialisasi dalam perkembangan anak. Ia mengatakan, sistem virtual itu sangat baru untuk anak-anak.

"Dan kurangnya kontrol dari teknologi ini yang membuatnya jauh lebih sulit untuk melibatkan anak ke anak," kata Baudino, dilansir NY Times.

Bunda, simak juga yuk penjelasan mengenai penting enggak sih sekolah pra-sekolah  untuk anak, dalam video di bawah ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi