sign up SIGN UP search


parenting

Apa itu Febris? Berikut 5 Tips Aman Mengatasinya

Annisa Afani Kamis, 15 Oct 2020 11:51 WIB
ilustrasi anak demam caption
Jakarta -

Febris dalam istilah medis adalah demam dengan kondisi suhu lebih tinggi dari rata-rata. Febris merupakan reaksi normal karena tanda bahwa tubuh sedang melawan benda asing atau kuman di dalam tubuhnya.

Mengutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), jika anak mengalami febris, maka Bunda harus memperhatikan aktivitasnya secara umum. Misalnya, aktivitas bermain, makan dan minum, serta buang air kecilnya. Jika semuanya masih bisa dilakukan dengan baik dan buang air kecil setiap 2-4 jam sekali, maka Bunda tak perlu khawatir.

Sebaliknya, jika anak menjadi lebih sering tidur, menolak makan dan minum, serta jarang buang air, Bunda sebaiknya segera membawa anak ke dokter untuk mendapat perawatan yang tepat.


Apa penyebab febris pada anak?

Suhu tubuh normal pada setiap anak dapat bervariasi sepanjang hari, Bunda. Saat pagi mungkin dapat lebih rendah dan ketika siang, sore atau malam mungkin menjadi lebih tinggi. Normalnya, kebanyakan tubuh memiliki suhu rata-rata 37 derajat celcius.

"Suhu tubuh normal kita sekitar 37 derajat celcius, bisa naik turun sedikit sekitar angka ini pada siang hari. Suhu anak-anak dapat dengan mudah naik sedikit karena mandi air panas, olahraga, dan mengenakan pakaian yang terlalu hangat," kata dokter umum, Sarah Jarvis dikutip dari Patient.

Jika suhu tubuh anak lebih tinggi dari angka tersebut, bisa dikatakan anak mengalami demam atau febris. Ada beberapa penyebab febris pada anak, yakni:

  • Infeksi virus

Infeksi virus adalah penyebab paling umum. Infeksi virus menyebabkan penyakit umum, seperti pilek, batuk, flu, diare, dan lainnya. Kadang, infeksi virus bisa menyebabkan penyakit yang lebih serius.

  • Infeksi bakteri

Infeksi bakteri lebih jarang terjadi dibandingkan dengan infeksi virus tetapi juga menyebabkan febris. Bakteri lebih mungkin menyebabkan penyakit serius seperti pneumonia, infeksi sendi, infeksi urin, infeksi ginjal, septikemia, dan meningitis.

"Namun, bakteri juga bisa menyebabkan febris pada infeksi yang tidak terlalu serius, seperti infeksi telinga, dan ruam kulit yang terinfeksi," ucap Sarah Jarvis.

  • Kondisi dan reaksi inflamasi

Inflamasi dapat menyebabkan febris, termasuk penyakit Kawasaki.

  • Imunisasi

Kadang anak akan mengalami febris setelah imunisasi. Ini karena imunisasi umumnya dirancang untuk 'mengelabui' sistem kekebalan tubuh agar mengira melihat infeksi, sehingga mengembangkan kekebalannya. Namun febris yang terjadi, biasanya tidak tinggi atau berkepanjangan.

  • Infeksi lain

Misalnya infeksi tropis seperti malaria dan demam berdarah, atau tuberkulosis.

  • Heat stroke

Paparan panas kemungkinan bisa meningkatkan suhu tubuh. Meski secara teknis ini bukan febris karena tubuh panas karena faktor dari luar.

Selain itu, ada beberapa penyebab lain seperti dikutip dari Mayo Clinic, seperti kondisi peradangan tertentu, konsumsi obat-obatan tertentu seperti antibiotik dan obat yang digunakan untuk mengobati kejang. Terkadang penyebab febris tidak dapat diidentifikasi dengan jelas, sehingga meskipun penyebab tersebut tak ditemukan, febris pada anak masih tetap dapat terjadi, Bunda.

Gejala febris pada anak

Gejala febris pada anak tergantung penyebabnya. Namun beberapa gejala anak mengalami febris, di antaranya berkeringat, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, selera makan hilang, mudah marah, dehidrasi, dan lemah.

Anak-anak usia 6 bulan hingga 5 tahun mungkin mengalami kejang yang disebabkan oleh febris, Bunda. Ini biasanya melibatkan hilangnya kesadaran dan membuat tubuh gemetar atau menggigil dengan kuat.

Meski tampak mengkhawatirkan, sebagian besar kejang akibat febris pada anak tidak menyebabkan efek yang bertahan lama. Namun jika anak mengalami kejang, maka Bunda harus melakukan beberapa hal sebagai berikut:

  • Baringkan anak dengan posisi miring atau tengkurap di lantai atau tanah yang datar
  • Singkirkan benda tajam atau yang berbahaya dari sekitar anak
  • Kendorkan pakaian yang dikenakan
  • Hindari anak dari hal-hal yang membuatnya cedera
  • Jangan memasukkan apapun ke dalam mulut anak atau mencoba untuk menghentikan kejang karena biasanya akan berhenti dengan sendirinya. Bila sudah tenang, segera bawa ke dokter untuk mengetahui penyebab febrisnya.
  • Hubungi petugas medis darurat jika kejang berlangsung lebih dari lima menit.

Penanganan febris pada anak

Hal penting dalam penanganan febris pada anak, yakni dengan menjaganya tetap merasa tenang, dan nyaman, Bunda. Selain itu, Bunda juga perlu melakukan beberapa hal sebagaimana yang HaiBunda rangkum dari berbagai sumber berikut:

1. Beri banyak minum

Dengan memberi anak banyak minum, hal ini akan membantunya mencegah kekurangan cairan dalam tubuh atau dehidrasi. Febris yang disebabkan oleh penyakit apa pun dapat menyebabkan berisiko membuat anak mengalami dehidrasi.

Dehidrasi dapat terjadi melalui penguapan kelembapan dari kulit. Ini juga merupakan usaha tubuh untuk mencoba mendinginkan dirinya sendiri, dan melalui keringat.

2. kompres air hangat

Penggunaan spons atau kain lembut untuk kompres air dingin tidak dianjurkan untuk pengobatan febris karena membuat pembuluh darah di bawah kulit akan menjadi lebih sempit. Sehingga ini dapat menghalangi panas keluar dan menahannya di bagian tubuh yang lebih dalam.

Akibatnya, kondisi anak mungkin akan menjadi lebih buruk. Selain itu, kompres dingin juga membuat anak merasa tidak nyaman.

3. Buat kamar anak lebih sejuk

Jika menggunakan AC, turunkan suhu ruangan menjadi sejuk atau buka ventilasi agar sirkulasi udara dalam ruangan menjadi segar. Dengan begitu, anak akan lebih nyaman dan cukup istirahat.

4. Pilih pakaian tipis

Anak-anak dengan febris sebaiknya mengenakan pakaian tipis dan dapat menyerap keringat dengan baik, namun tidak menambahkan pakaian lain hingga membuatnya kepanasan.

5. Obat-obatan penurun panas

Biasanya, parasetamol dan ibuprofen menjadi pilihan untuk menurunkan febris dan menghilangkan nyeri. Namun obat ini pun tidak boleh asal diberikan pada anak lho, Bunda. Anak hanya boleh mengonsumsinya jika febris sudah membuatnya tampak begitu tertekan. Oleh karena itu, akan lebih baik untuk membiarkan tubuh mengatasi febris yang terjadi dengan melakukan tugas sesuai caranya sendiri.

"Parasetamol dan ibuprofen tidak mengobati penyebab febris, ini hanya membantu meredakan ketidaknyamanan dan meredakan sakit kepala serta nyeri. Anda tidak perlu menggunakan obat-obatan ini jika anak merasa nyaman dan tidak tertekan oleh febris, nyeri," tutur Sarah Jarvis.

Selain itu, beberapa penelitian pun menunjukkan bahwa ibuprofen dapat meningkatkan risiko infeksi kulit yang serius bila digunakan dalam pengobatan cacar air, Bunda. Ditambah lagi, ibuprofen tidak boleh digunakan jika anak mengalami dehidrasi karena penelitian telah menunjukkan bahwa hal ini dapat meningkatkan risiko gagal ginjal bagi yang mengonsumsinya.

Jika ingin memberikan obat-obatan untuk mengatasi febris pada anak, sebaiknya Bunda konsultasi ke dokter anak demi mendapatkan pengobatan yang tepat. Dan Bunda perlu segera membawa anak ke dokter apabila menemukan beberapa hal berikut:

  • Usia bayi di bawah 3 bulan dan memiliki suhu rektal 38 derajat celcius atau lebih tinggi.
  • Usia bayi diantara 3-24 bulan dan memiliki suhu rektal hingga 38,9 derajat celcius atau lebih tinggi yang berlangsung lebih lama dari satu hari tetapi tidak menunjukkan gejala lain.
  • Anak menjadi lemas atau mudah tersinggung, muntah berulang kali, sakit kepala parah, sakit perut, atau memiliki gejala lain yang menyebabkan ketidaknyamanan yang signifikan.
  • Febris berlangsung lebih dari tiga hari.
  • Anak terlihat lesu dan memiliki kontak mata yang buruk dengan orang tua.

Bunda, simak juga yuk tanda dan jenis demam berdarah dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi