sign up SIGN UP search


parenting

Bun, Ini Pedoman Gizi Seimbang untuk Anak Pengganti 4 Sehat 5 Sempurna

Annisa Karnesyia   |   Haibunda Selasa, 02 Mar 2021 16:33 WIB
Anak makan caption
Jakarta -

Bunda pasti sudah enggak asing dengan istilah 4 sehat 5 sempurna ya? Konsep pemenuhan gizi ini telah berganti menjadi Pedoman Gizi Seimbang (PGS) sejak tahun 2014 lho.

Ketentuan perubahan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang. Nah, PGS ini menjadi panduan untuk pemenuhan gizi dengan mengonsumsi makan dan melakukan aktivitas.

"Pedoman Gizi Seimbang bertujuan untuk memberikan panduan konsumsi makanan sehari-hari dan berperilaku sehat berdasarkan prinsip konsumsi aneka ragam pangan, perilaku hidup bersih, aktivitas fisik, dan memantau berat badan secara teratur dalam rangka mempertahankan berat badan normal," demikian isi Permenkes No. 40 tahun 2014.


Dalam pemenuhan gizi seimbang, komposisi makan yang diberikan pada anak juga harus mengandung makronutrien dan mikronutrien. Selain karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral, Bunda jangan lupa memberikan anak lemak ya.

Menurut dokter spesialis anak, dr.Melisa Anggraeni, M.Biomed, Sp.A, pada prinsipnya konsep 4 sehat 5 sempurna dengan PGS sama. Namun, pemerintah memang berusaha menyempurnakan konsepnya supaya masyarakat enggak cuma menggampangkan gizi anak dari makanan 4 sehat 5 sempurna saja.

"Kita membutuhkan makronutrien dan mikronutrien di makanan anak. Di beberapa penelitian, kita dapatkan bahwa protein, lemak, dan mikronutrien seperti vitamin A, C, D , E, dan mineral juga penting dan jangan dilupakan," kata Melisa saat dihubungi HaiBunda, Selasa (2/3/2021).

"Pada penelitian, banyak anak yang kekurangan vitamin dan mineral ini," sambungnya.

Jangan pikir dengan makan 4 sehat 5 sempurna sudah cukup memenuhi nutrisi anak ya, Bunda. Melisa menambahkan, anak-anak masih membutuhkan gizi yang seimbang dalam menu makanannya.

"Proporsi harus ada persentase yang dianggap cukup. Tapi sebenarnya pada prinsipnya sama, tapi PGS ini adalah penyempurnaan dari 4 sehat 5 sempurna saja," ujar Melisa.

Konsep 4 sehat 5 sempurna memang sudah tak digunakan lagi untuk pemenuhan nutrisi anak. Konsep ini menekankan pada konsumsi nasi, lauk pauk, sayur, buah, dan memandang susu sebagai bahan pangan yang menyempurnakan. Padahal kini susu dianggap bukan lagi penyempurna, Bunda.

Dalam PGS, susu termasuk ke dalam lauk-pauk dan bukan makanan penyempurna ataupun pengganti dengan jenis makanan lain yang sama nilai gizinya. Jadi, minum susu sapi tidak bisa dijadikan penyempurna makan anak ya, Bunda.

Pedoman gizi seimbang juga tak hanya memberi makanan bernutrisi pada anak-anak. Aktivitas fisik di zaman sekarang juga harus ditingkatkan agar anak sehat ya.

10 pedoman gizi seimbang 

Melansir laman Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kemenkes RI, berikut 10 Pedoman Gizi Zeimbang yang lebih relevan di kehidupan sekarang:

1. Biasakan mengonsumsi aneka ragam makanan pokok.

2. Batasi konsumsi panganan manis, asin, dan berlemak.

3. Lakukan aktivitas fisik yang cukup dan pertahankan berat badan ideal.

4. Biasakan mengonsumsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi.

5. Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir.
Biasakan sarapan pagi.

6. Syukuri dan nikmati ragam makanan.

7. Biasakan membaca label pada kemasan pangan.

8. Banyak makan buah dan sayur.

9. Biasakan minum air putih yang cukup dan aman.

10. Biasakan sarapan pagi.

Anak makanIlustrasi anak makan/ Foto: iStock

Gizi seimbang untuk anak usia 0 bulan sampai 19 tahun

Gizi seimbang setiap anak berbeda menurut usianya, Bunda. Misalnya, bayi yang usianya di atas 6 bulan sudah bisa mengonsumsi MPASI. Berikut panduan gizi seimbang untuk anak usia 0 sampai 19 tahun, sesuai Permenkes No.41 tahun 2014:

1. Bayi usia 0-6 bulan

Gizi seimbang untuk bayi usia 0-6 bulan cukup hanya dari Air Susu Ibu (ASI). Sebab, ASI merupakan makanan yang terbaik untuk bayi karena dapat memenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan bayi sampai usia 6 bulan, sesuai dengan perkembangan sistem pencernaannya, murah, dan bersih.

Setiap bayi harus memperoleh ASI Eksklusif ya, Bunda. Artinya, sampai si Kecil usia 6 bulan hanya diberi ASI saja.

2. Bayi usia 6-24 bulan

Nah, untuk bayi usia 6-24 bulan, kebutuhan zat gizi semakin meningkat dan tidak lagi dapat dipenuhi dari ASI saja. Pada usia ini, anak berada pada periode pertumbuhan dan perkembangan yang cepat.

Selain itu, mereka mulai terpapar terhadap infeksi dan secara fisik mulai aktif. Itulah sebabnya, kebutuhan zat gizi harus dipenuhi dengan memperhitungkan aktivitas si Kecil dan keadaan infeksi.

Untuk pemenuhan gizinya, Bunda perlu MPASI dengan variasi makanan, seperti sayuran dan buah-buahan, lauk pauk sumber protein hewani dan nabati, serta makanan pokok. Sementara ASI tetap diberikan sampai bayi berusia 2 tahun.

"Pada usia 6 bulan, bayi mulai diperkenalkan kepada makanan lain, mula-mula dalam bentuk lumat, makanan lembek, dan selanjutnya beralih ke makanan keluarga saat bayi mulai berusia 1 tahun," demikian isi Permenkes No.41 Tahun 2014.

3. Anak usia 2-5 tahun

Kebutuhan zat gizi anak di usia ini mulai meningkat karena masa pertumbuhan masih cepat dan aktivitasnya semakin meningkat. Di usia ini, anak-anak juga sudah memiliki pilihan makanan kesukaan dan mudah terkena penyakit infeksi karena sering keluar rumah.

Bunda perlu membuat variasi makanan bergizi seimbang yang disukai anak. Selain itu, jangan lupa terapkan perilaku hidup bersih untuk mencegah penyakit infeksi.

4. Anak usia 6-9 tahun

Anak pada kelompok usia ini sudah memasuki masa sekolah dan banyak bermain di luar, sehingga pengaruh kawan, tawaran makanan jajanan, aktivitas yang tinggi dan keterpaparan terhadap sumber penyakit infeksi menjadi tinggi. Sebagian anak di usia ini juga sudah mulai memasuki masa pertumbuhan cepat pra-pubertas.

Kebutuhan terhadap zat nak usia 6-9 tahun mulai meningkat. Oleh karena itu, Bunda perlu perhatikan pemberian makanan bergizi seimbang dengan mempertimbangkan kondisi anak.

5. Remaja usia 10-19 tahun (pra-pubertas dan pubertas)

Usia 10-19 tahun adalah masa peralihan dari anak menjadi remaja muda sampai dewasa. Kondisi penting yang berpengaruh terhadap kebutuhan zat gizi di usia ini adalah pertumbuhan cepat memasuki usia pubertas, kebiasaan jajan, menstruasi dan perhatian terhadap penampilan fisik citra tubuh (body image), Bunda.

Kita perlu memperhitungkan kebutuhan gizi anak usia ini dengan memperhatikan kondisi-kondisi tersebut ya. Khusus remaja putri, perhatian harus lebih ditekankan terhadap persiapan mereka sebelum
menikah.

(ank/som)
Share yuk, Bun!

Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi
Pantau terus tumbuh kembang Si Kecil setiap bulannya hanya di Aplikasi HaiBunda!