sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Aku Korbankan Karier, Ikhlas Urus Anak Tiri Malah Seperti Pembantu

Sahabat HaiBunda Senin, 02 Nov 2020 19:41 WIB
Unhappy young mother touching forehead, feeling tired of bad daughter's behavior at home. Offended little child girl sitting on different side on couch, ignoring sad frustrated mother in living room. caption
Jakarta -

Jatuh cinta bikin buta, itulah yang sekarang aku rasakan. Tapi toh, penyesalan enggak akan ada artinya kalau sudah terlanjur terjadi.

Semoga kisah hidupku ini, bisa menjadi pembelajaran bagi para wanita-wanita di luar sana yang akan memutuskan menikah. Setidaknya, agar tidak salah memilih langkah seperti yang aku lakukan.

Menyandang image perawan tua membuatku tak pikir panjang saat pacar melamarku tiga tahun lalu. Ya, usiaku sudah masuk kepala 4 dan belum juga menikah.


Saat ada seorang duda beranak satu yang mendekatiku, rasanya berbunga-bunga sekali. Statusnya sebagai bapak dengan anak berusia 8 tahun tak menjadi masalah bagiku.

Hanya butuh tiga bulan untuk kami saling mengenal dan pacaran. Kemudian, kami menikah di rumah orang tuaku di Sukabumi. Saat itu, ada beberapa permasalahan administrasi yang harus ia selesaikan sebelum menikah. Namun, ia mengatakan padaku sudah diselesaikan semua dan tak ingin aku kepikiran.

Setelah menikah, kami tinggal bersama anak perempuannya di sebuah rumah kontrakan. Saat siang hari, anak tiri atau anak sambungku sekolah dan pulang ke rumah saudaranya sampai sore. Ia baru pulang setelah aku atau suami menjemputnya.

Membesarkan anak tiba-tiba, bukan hal mudah untukku. Begitu pula dengan anak tiriku yang sepertinya belum menerima kehadiranku. Kalau tidak ada ayahnya, berani sekali melawanku.

Bahkan, enggak sungkan meminta uang jajan hingga berkali-kali. Kalau cuma Rp1000-2000 sih enggak masalah. Kadang ia minta uang buat meneraktir teman-temannya di sekitaran rumah. Duh, Gusti!

Enggak cuma sampai situ saja, dia juga suka memerintah dan minta diambilkan ini itu. Meminta apapun juga semaunya sendiri, kalau tidak dituruti menangis gulung-gulung hingga berteriak. Malu sama tetangga sudah jadi makanan sehari-hari.

Di awal menikah, aku masih memakluminya. Namanya anak enggak pernah mendapat kasih sayang Bundanya, mungkin jadi kurang sopan pada orang tua. Ditambah rasa cinta sama ayahnya, aku masih bisa terima menghadapi kelakuannya.

Namun, lama-kelamaan kok aku merasa suami cuek terhadap perkembangannya. Pulang selalu di atas jam 10 malam, dan kalau pulang melihat anaknya susah diatur langsung dipukul dan ditendang. Mengelus dada rasanya.

Melihat perkembangan anak tiri yang makin tidak terkontrol, aku pun merasa kasihan. Apalagi dia anak perempuan, aku tidak tega melihat masa depannya kelak harus bagaimana.

Setelah berunding dengan suami, aku mengalah untuk resign dari kerja. Harpannya, kalau anak ini aku pegang sendiri bisa berubah. Pinginnya mengajari dia banyak hal di rumah.

Alamak, ternyata harapanku tidak sesuai kenyataan. Keuangan jadi goyah, makan pun susah karena usaha suami jadi sepi setelah pandemi. Anak tiriku pun makin menjadi-jadi. Mulai dari bangun tidur, sudah berteriak minta makan, minta belikan mainan, hingga main ke rumah tetangga tanpa tahu waktu. Apalagi saat sekolah di rumah seperti ini, makin menguji iman dan kesabaranku.

Kalau anak sendiri mungkin aku masih berani memukulnya, tapi ini kan hanya anak sambung. Aku juga takut, kalau sampai memukul dia akan mengadukan ke ayahnya.  Enggak dikasih hukuman ngelunjak, dibiarkan kok kurang ajar sekali. Sampai aku nangis-nangis sendiri.

Suami semakin tenggelam dengan kesibukannya. Aku pun merasa diperlakukan seperti pembantu. Tidak ada yang bisa kuajak bicara. Suami cuek enggak peduli, gaji pun enggak mencukupi.

Aku pontang-panting jualan cilok dan gorengan di depan rumah untuk menutup kebutuhan bulanan. Anak tiriku juga enggak mau bantu-bantu urusan rumah. Jadi semua kerjaan rumah seperti nyapu, cuci piring, nyuci baju, masak, semua kukerjakan sendiri.

Pingin memutar waktu dan mengambil keputusan lain tiga tahun lalu. Atau setidaknya, memutar waktu untuk tidak berhenti dari kerjaan. Padahal dulunya, di kantor aku punya jabatan dan dihormati bawahan.

Sekarang aku cuma bisa gigit jari sambil mengenang masa-masa karier yang cemerlang. Sambil memandang cucian segunung di keranjang cucian. Semoga, ada perubahan dari suami dan anakku. Amin.

(Cerita Bunda Yaya - Bandung)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email redaksi@haibunda.com. Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

Bunda, simak juga yuk cerita Chua 'Kotak' bongkar masa lalu suami dalam video di bawah ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi