sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Mertuaku Gemar Berutang, Hidupku Jadi Ikut Sengsara

Sahabat HaiBunda Selasa, 27 Oct 2020 20:43 WIB
Strong headache. Unhappy depressed woman touching her temples while feeling depressed caption
Jakarta -

Tidak ada yang melarang seseorang berutang, tapi jika itu menjadi kebiasaan dan mengganggu kehidupan orang lain, itu yang jadi masalah. Saya seorang ibu dengan satu anak. Saya dan suami dulu merantau di pulau Kalimantan. Suami bekerja sebagai penjual makanan. Kami punya warung kecil-kecilan yang letaknya cukup strategis di depan sebuah pabrik, tapi kini pekerja banyak yg berhenti karena PHK. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang kampung dengan membaw sedikit modal.

Sesampainya dirumah mertua, ternyata bangunan rumah ini tidak banyak perubahan setelah hampir empat tahun kami di Kalimantan. Teras masih setengah jadi, lantai dapur dalam masih berupa tanah, sedangkan bangunan pawon (dapur untuk madak dengan kayu bakar) di belakang sudah hampir roboh.

Suami memutuskan mengambil alih pekerjaan ibu mertua, berjualan buah dan kebutuhan pokok sehari-hari di pasar dekat rumah. Biasanya ibu mertua jualan sendiri, untuk kulak'an (belanja banyak) biasanya titip orang atau ikut mobil pick up yang pergi ke pasar di pusat kota.


Selama berjualan dalam dua bulan, suami bercerita, bahwa ada beberapa orang yang menagih utang ibu padanya di pasar. Memang nominalnya tidak besar, tidak sampai Rp100.000. Tapi namanya pedagang, harus pintar-pintar memilah uang. Mana uang modal, mana yang laba sehingga jangan sampai uang modal dipakai untuk kebutuhan lainnya.

Akhirnya suami memutuskan mengambil alih semua pekerjaan pasar, dan ia tidak memberi ibu kebebasan memegang uang, hanya memberi yg ia butuhkan saja.

Sebetulnya ibu memiliki sampingan lain, ia membuka warung sate ketika Wage (pasaran dalam bahasa Jawa). Masakan ibu mertua saya memang enak, jadi warungnya memang selalu ramai. Tapi itu dulu, dalam kondisi sekarang warung ibu sepi. Sebetulnya bukan karena Covid-19, tapi karena banyak warung serupa, mungkin juga karena kondisi ekonomi yang semakin sulit.

Ibu mertua juga menggarap sawah saudaranya yang bekerja di Malaysia. Dari sejauh yang saya tahu, ia berutang untuk modal pada juragan gabah (padi), dan akan melunasinya ketika panen.

Untuk utang yang biasa diikuti ibu mertua saya ada istilah Selosoan, Reboan atau Kemisan. Itu adalah hari dimana seseorang harus membayar (mencicil) utangnya. Nominal cicilannya antara 50.000-100.000 tiap minggunya. Ada juga istilah mendreng (memberikan utang berupa barang) yang nominal cicilannya lebih ringan. Kadang 2.000-5.000 yang harus ia bayarkan, ada juga yang pembayarannya seminggu sekali, tergantung kesepakatan dengan si pengutang.

Itu baru sebagian kecil, belum lagi utang di bank dan utang di masing-masing warga di sekitar rumah kami. Sebagian utang sudah diselesaikan suami, sebagian lagi diselesaikan oleh adiknya, dengan perjanjian tidak ada utang piutang baru.

Setelah tiga tahun, tidak banyak berubah. Utang memang tidak sebanyak dulu, karena ibu merasa fisiknya tidak sekuat dulu untuk bekerja. Ibu memang tidak pernah meminta uang dari saya untuk melunasi utangnya. Tapi, sebagai menantu saya tidak mungkin jika tidak menyisihkan penghasilan kami untuk ibu. Kadang juga ibu berutang pada saya, untuk kebutuhannya atau melunasi utangnya. Bukannya tidak ikhlas atau takut tidak dikembalikan, ibu selalu mengembalikan uang yang dipinjam tapi kadang temponya lama.

Karena pendapatan suami banyak terpakai untuk membayar utang mertua dan kebutuhan sehari-hari, mau tak mau aku harus pintar-pintar berhemat. Bahkan, untuk membeli sesuatu saya harus dipikir 1000 kali. Hingga tidak jarang hal yang saya inginkan tidak terbeli karen harus mengalah dengan kebutuhan yang lebih penting.

Tapi begitulah utang, sulit sekali jika ingin berhenti. Biasanya, ada saja cobaan atau godaan untuk tidak berutang. Doa saya semoga kami sekeluarga sehat, juga mertua saya, sampai urusan utang-piutang (urusan dunia) ini bisa kami selesaikan. Pelajaran yang bisa kita ambil adalah, bijak-bijaklah dalam berutang dan jangan mudah tergoda untuk berutang kembali.

(Cerita Bunda Suciani - Semarang)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email redaksi@haibunda.com. Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

Bunda, simak juga yuk berbagai cerita menarik dari Chua 'Kotak' dengan ibu mertua dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi