parenting

Kaitan Makanan Tinggi Gula, Garam, Lemak pada Kesehatan Anak

Amelia Sewaka Kamis, 01 Feb 2018 16:03 WIB
Kaitan Makanan Tinggi Gula, Garam, Lemak pada Kesehatan Anak
Jakarta - Anak maunya makan apa sering banget kita turutin. Prinsipnya yang sering dipegang, 'yang penting anak mau makan'. Tapi kita sering nggak ngecek bahwa makanan yang dimakan anak itu tinggi gula, garam, dan lemak.

"Makanan yang masuk ke tubuh anak harus pas dengan kondisi anak. Bukannya bikin stunting atau obesitas, filosofi gizi yang harmoni dan seimbang dengan kebutuhannya," ungkap Prof dr Dodik Briawan MCN.

Menurut pengajar dan peneliti Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB ini, beberapa perilaku yang tidak sehat tapi masih sering dilakukan misalnya memberi makan tinggi kalori (karbohidrat dan lemak), tinggi natrium, terlalu manis dan rendah serat (kurangnya asupan buah dan sayur) ke anak.




Prof Dodik pun memberi gambaran hubungan makanan yang tinggi gula, garam, dan lemak dengan pertumbuhan dan kesehatan anak. Yuk disimak bersama, Bun.

1. Makanan Tinggi Gula

Pertumbuhan satu unit porsi konsumsi minuman manis dalam sehari berhubungan dengan kenaikan Indeks Massa Tubuh (IMT) 0,06 unit dalam kurun waktu satu tahun pada anak-anak dan remaja.

"7 dari 8 studi melaporkan kasus dental karies berbanding lurus dengan konsumsi gula tinggi," ungkap Prof Dodik dalam acara Peringatan Hari Gizi Nasional 2018, Stunting dan Gizi Buruk Tantangan Mewujudkan Indonesia Emas 2045 di Kantor Kemendikbud, Jl Jend Sudirman, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selain itu terdapat hubungan positif antara konsumsi minuman mengandung gula di antara anak-anak usia 12 tahun ke bawah, dan hasilnya tepat berada di tengah. "Minuman manis merupakan faktor penyumbang pada berat badan anak," tutur Prof Dodik.

Sembilan makanan sumber gula terdiri yang sering diasup anak usia 5 hingga 18 tahun seperti, jelly (20 - 23 gram), sirup (16 - 22 gram), cokelat (12 - 12,2 gram), madu (11,4 gram), selai (10 - 12 gram), permen (8 - 9 gram), gula pasir (8,4 - 8,7 gram), gula merah (7 - 8 gram), dan pemanis buatan (2,7 - 2,9 gram).

2. Makanan Tinggi Garam

"Konsumsi natrium tinggi pada anak berhubungan dengan tekanan darah yang tinggi," tutur Prof Dodik.

Sebuah studi tahun 2012 tentang anak-anak dan remaja di AS menemukan bahwa konsumsi natrium yang lebih tinggi dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah. Selain itu juga terdapat hubungan langsung yang signifikan antara sodium dan risiko stroke dan penyakit kardiovaskular. Wah, seram ya, Bun.



Contoh makanan sumber garam yaitu seperti bumbu dan olahan 53 persen, daging dan olahan 3,35 persen, lain-lain 6,35 persen, hewani dan olahan 9,15 persen, serta serealia dan olahan 28,15 persen.

3. Makanan Tinggi Lemak

Peningkatan IMT pada anak dipengaruhi oleh konsumsi minuman manis dan makanan lemak tinggi. Suatu penelitian menunjukkan adanya hubungan antara asupan energi dan protein dengan obesitas pada anak, kemungkinan disumbang oleh konsumsi cepat saji (makanan modern) yang tinggi energi, tinggi lemak, tinggi garam, dan rendah serat.

"Pola makan dengan lemak tinggi dan rendah serat secara longitudinal berhubungan dengan peningkatan adipositas," sambung Prof Dodik.

Makanan dengan kandung lemak misalnya daging dan olahan (39,7 gram), minyak dan olahan (35 - 37 gram), makanan komposit (30 - 35 gram), serealia dan olahan (28 - 29 gram), kacang-kacangan dan olahan (12 - 14 gram), jeroan dan olahan (11 - 14 gram), telur dan olahan (10 - 11 gram).

Dengan tahu kandungan lemaknya, kita bisa perhatikan nih seberapa banyak sih saat kita mau kasih anak makanan yang tinggi lemak. Pokoknya yang harus kita ingat, Bun, segala hal yang berlebihan itu nggak baik. Kandungan makanan yang baik pun begitu, kalau berlebihan dimakan jadinya juga malah nggak baik.

(Nurvita Indarini)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi