sign up SIGN UP search


parenting

10 Bahaya Anak Sering Makan Junk Food, Bunda Perlu Tahu

Annisa Afani Kamis, 10 Sep 2020 11:29 WIB
ilustrasi anak makan junk food 10 Bahaya Anak Sering Makan Junk Food, Bunda Perlu Tahu/Foto: iStock
Jakarta -

Banyak anak-anak yang menyukai junk food karena rasanya yang manis atau gurih. Namun jika dikonsumsi terlalu sering, junk food bisa berbahaya untuk kesehatan anak, termasuk menyebabkan kenaikan berat badan lho, Bunda.

Junk food adalah istilah umum untuk semua jenis makanan olahan. Biasanya makanan ini mengandung tinggi lemak, gula, garam, tetapi relatif rendah nutrisi penting seperti protein, serat, vitamin dan mineral.

"Junk food dapat menjadi padat energi baik dari gula atau lemak, sehingga selain donat dan permen, junk food bisa mencakup banyak makanan berlemak tinggi yang populer, termasuk fast food dan camilan," kata dokter anak Vincent Iannelli, dikutip dari Very Well Family.


Beberapa makanan junk food, seperti permen, kue, donat, sereal, sarapan manis, es krim, minuman soda atau buah. Selain itu, burger daging atau keju, sandwich fillet ayam, kentang goreng, milkshake, nugget, pizza.

Untuk mengetahui makanan tersebut junk food, bisa dilihat dari labelnya, termasuk mengandung sedikit nilai gizi dan beberapa hal berikut:

  • Lebih dari 35 persen kalori dari lemak, kecuali susu rendah lemak
  • Lebih dari 10 persen kalori dari lemak jenuh
  • Semua lemak trans
  • Lebih dari 35 persen kalori berasal dari gula, kecuali jika dibuat dengan 100 persen buah dan tambahan gula
  • Lebih dari 200 kalori per porsi untuk camilan
  • Lebih dari 200 miligram (mg) per porsi untuk natrium (garam) pada camilan
  • Lebih dari 480 mg per porsi untuk garam pada makanan pembuka

Bunda juga bisa memeriksa daftar bahan makanan untuk mengetahui bentuk junk food. Secara umum, jika mengandung minyak atau sejenis gula, kemungkinan besar itu adalah junk food, Bunda.

Meski demikian, Bunda mungkin juga sempat mengalami dilema jika menyadari makanan bergizi juga tinggi lemak atau gula. Misalnya, milkshake yang biasanya tinggi lemak tapi bisa menjadi sumber kalsium yang baik. Karena itu, anak boleh mengonsumsi milkshake tapi jangan sering-sering ya, Bun.

Kandungan junk food 

Yang membuat makanan dikatakan junk food atau makanan sampah ketika, ketika makanan tersebut mengandung beberapa bahan tertentu, seperti berikut ini dikutip dari Parenting Firstcry:

1. Gula tambahan

Berbagai makanan junk food ini mengandung beragam warna, rasa, dan gula yang ditambahkan secara artifisial yang membuatnya terlihat menarik dan terasa lezat. Makanan ini biasanya disajikan dengan dengan minuman soda yang sebenarnya memiliki kandungan serupa. Semua bahan yang digabungkan tersebut dapat membentuk gula tambahan dalam jumlah besar, sehingga dapat memberikan efek buruk pada tubuh.

2. Lemak tak sehat

Untuk membuat makanan ini disukai banyak orang, termasuk anak-anak, junk food di restoran cepat saji biasanya memiliki banyak lapisan keju dan mayones sebagai penyedap rasa. Banyak dari makanan ini digoreng dengan minyak, sehingga menambah kandungan lemak dan sangat tidak cocok untuk anak-anak. 

3. Zat olahan

Junk food hampir tidak mengandung elemen berserat dan tidak mengandung nutrisi lain yang penting untuk memberi energi yang dibutuhkan tubuh. Hal ini disebabkan semua bahan yang digunakan adalah olahan dan hanya membuat kenyang semata dan tidak bertahan lama.

4. Topping

Banyak topping pada burger, salad berupa mayones, saus atau rasa lainnya dalam jumlah banyak. Semua topping itu biasanya mengandung banyak garam yang tidak baik untuk tubuh.

Efek junk food bagi anak

Jika anak mengonsumsi junk food secara rutin atau sering bisa menyebabkan masalah kesehatan dalam jangka panjang. Mengutip News Medical, satu makanan junk food bisa meningkatkan 160 hingga 310 kilokalori (kkal) ekstra dalam asupan kalori harian untuk anak-anak dan remaja.

Berikut ini beberapa efek berbahaya mengonsumsi junk food terlalu sering bagi buah hati:

1. Menurunkan fungsi otak

Anak sebaiknya makan makanan bergizi untuk mendukung perkembangan tubuh serta cara berpikirnya, Bunda. Sedangkan junk food tidak memiliki nutrisi yang tepat untuk mendukung hal tersebut.

Junk food hanya berfungsi mengisi perut sebentar dan hampir tidak memberikan apapun untuk membantu mengembangkan otak. Hal ini umumnya mengakibatkan anak kurang konsentrasi saat mengerjakan tugas, sulit mengingat dalam jangka waktu lebih lama dan menerima pelajaran.

2. Risiko penyakit

Mengonsumsi junk food terlalu sering dapat meningkatkan risiko kolesterol dalam tubuh. Selain itu, kebiasaan mengonsumsi junk food juga berpotensi mengalami berbagai masalah yang berhubungan dengan jantung di kemudian hari.

3. Mengganggu pertumbuhan

Tubuh seorang anak mengalami beberapa pertumbuhan dan perkembangan, seperti halnya di daerah gigi dan struktur tulang yang membutuhkan waktu untuk mencapai batas maksimalnya. Namun jika makan junk food, tubuh anak akan mulai menghasilkan timbunan lemak di berbagai bagian tubuh, terutama pinggul, paha, serta tambahan gula yang terpapar pada gigi, sehingga dapat menyebabkan masalah terkait tulang dan kerusakan gigi.

4. Masalah pencernaan

Dengan tidak adanya kandungan serat yang dibutuhkan tubuh membuat junk food sulit untuk dicerna serta membatasi pergerakan usus yang benar. Akibatnya, anak yang mengonsumsi junk food akan mengalami sembelit atau gangguan terkait usus lainnya.

"Overdosis kalori, lemak, gula, dan karbohidrat lain dalam makanan mengubah kebiasaan makan anak, dan memperkecil kemungkinan makan serat, buah-buahan, susu, dan sayuran. Ini dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya sembelit," ujar Dr. Liji Thomas, MD, dokter spesialis kebidanan dan ginekologi.

5. Risiko obesitas

Semua rasa junk food yang enak merupakan hasil olahan makanan berlemak. Lemak ini hanya disimpan di dalam tubuh dan tak dapat diubah menjadi energi, sehingga membuat anak menjadi lesu. Akibat lesu dan anak yang tidak aktif bergerak membuatnya berpotensi mengalami kenaikan berat badan hingga obesitas.

6. Resiko diabetes

Dengan kadar gula yang tinggi pada junk food dan minuman yang menyertainya, bisa memengaruhi hati, menyebabkan masalah sekresi insulin dan dapat menyebabkan diabetes tipe 2 pada anak-anak.

7. Masalah ginjal

Peningkatan lemak dan kolesterol karena junk food dapat memberi tekanan pada jantung dan menyebabkan peningkatan tekanan darah, Bunda. Hal ini tentunya bisa berdampak pada fungsi ginjal, mengakibatkan retensi air di dalam tubuh karena tingginya kadar natrium.

8. Kecerdasan emosional lebih rendah

Gula dan banyak zat penyedap lainnya dalam junk food akan memengaruhi hormon yang tumbuh subur pada anak-anak. Hal ini menyebabkan anak-anak mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem, terkadang mengakibatkan tantrum atau bahkan depresi jika sering mengonsumsi junk food.

9. Risiko kelelahan

Perasaan kenyang yang datang segera setelah mengonsumsi junk food dapat memuaskan perut tetapi tidak memberikan sumber energi. Ini karena makanan tersebut tidak mengandung protein atau karbohidrat dalam bentuk apapun. Akibatnya, anak akan merasa lelah dan lesu sepanjang waktu.

10. Bisa menghambat sirkulasi darah

Kadar garam yang tinggi dalam junk food memberikan dorongan dan tekanan darah, namun tidak dengan cara yang baik, Bunda. Garam tersebut mengandung natrium yang menyebabkan masalah pada tekanan darah yang akhirnya tidak mengembangkan sistem sirkulasi darah dengan baik.

Cara menghindari junk food

Sebagai orang tua, Bunda tahu bahwa junk food tidak baik untuk anak-anak, namun sulit bagi anak untuk tidak mengonsumsinya. Meskipun konsumsi junk food sesekali atau dalam porsi kecil baik-baik saja, tetapi jika rutin dikonsumsi dan anak menolak makan selain junk food, itu sudah menjadi masalah serius yang perlu mendapat perhatian khusus.

Untuk menghindari anak dari junk food, cara yang mungkin dapat Bunda lakukan ialah dengan mendorongnya mengonsumsi makanan sehat, dengan lebih banyak makan makanan berikut ini:

1. Makanan yang rendah lemak, lemak jenuh, dan kolesterol.
2. Makanan yang mengandung tinggi serat seperti biji-bijian, sayuran, dan buah-buahan.
3. Makanan yang hanya memiliki sedikit kandungan gula, garam, dan perasa lainnya.
4. Makanan yang kaya kalsium untuk memenuhi kebutuhan kalsium harian anak.
5. Makanan kaya zat besi untuk memenuhi kebutuhan zat besi harian anak.

Untuk mendorong anak mau mengonsumsi makanan sehat, ada beberapa hal yang bisa Bunda lakukan, seperti mengonsumsi makanan rumahan, jadikan mengonsumsi makanan sehat sebagai kebiasaan, anggap junk food sebagai makanan 'mewah' yang dikonsumsi sesekali sehingga frekuensi mengonsumsinya bisa berkurang, berikan pilihan makanan sehat untuk anak.

Adapun alternatif camilan sehat yang bisa diberikan untuk buah hati, di antaranya: jelly buatan sendiri, camilan roti cokelat, ikan bakar, keripik kentang buatan sendiri.

Bunda, simak juga cara Farah Quinn untuk buat anaknya suka makan sayur dan buah dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi