cerita-bunda

Aku Keguguran & Salahkan Diri karena Tak Bisa Lawan Bos Egois

Radian Nyi Sukmasari Selasa, 08 Oct 2019 18:20 WIB
Aku Keguguran & Salahkan Diri karena Tak Bisa Lawan Bos Egois
Jakarta - Siapa sih wanita yang setelah menikah enggak bahagia ketika tahu dirinya positif hamil? Begitu pula aku. Terlebih, kala itu usiaku sudah tak muda lagi. Tapi, sayangnya takdir berkata lain. Kujaga sebisa mungkin janinku, tapi karena ada faktor di pekerjaan, aku pun harus merelakan bayiku pergi untuk selama-lamanya di usia kehamilan 3 bulan. Ya, aku mengalami keguguran.

Kehamilanku diketahui saat usia kandungan 2 bulanan. Saat itu, dokter sudah mewanti-wanti kalau kandunganku lemah. Kebetulan, aku adalah wanita pekerja saat itu. Tak ingin terjadi apa-apa pada janin di kandunganku, aku coba mengabarkan hal ini pada atasanku di kantor.

Aku bahkan sudah menunjukkan surat keterangan dari dokter kalau aku enggak boleh terlalu capek. Mengingat pekerjaanku butuh banyak mobilisasi dan rentan stres, aku mengajukan permohonan supaya kantor mencari penggantiku secara sementara. Bila disuruh ambil cuti tanpa digaji bahkan mengundurkan diri pun aku tak masalah.


Tapi, jajaran pimpinan di tempatku bekerja enggak menyetujui itu. Banyak alasan yang mereka sampaikan. Padahal, aku hanya minta diberi waktu istirahat sementara saja. Karena mereka terlalu keras kepala dan enggak bisa diajak kompromi.

Aku pun pasrah. Ada niat untuk mengajukan pengunduran diri, tapi pasti akan memakan waktu dan aku curiga nantinya proses pengunduran diriku dipersulit. Akhirnya, aku mencoba pasrah dan kembali beraktivitas seperti biasa. Melihat kondisiku, suami selalu mengingatkan supaya aku hati-hati dan tak kecapekan. Begitu juga orang tuaku.

Hingga saat itu di bulan Desember 2013, saat malam Idul Adha, aku melihat ada bercak darah di celana dalam. Padahal, besoknya aku berencana pergi ke masjid untuk salat Ied. Esoknya, aku cek flek sudah tak ada lagi. Aku lantas berangkat ke masjid dengan jalan kaki. Dari rumah, masjid berjarak sekitar 200 meter.

Ilustrasi keguguranIlustrasi keguguran/ Foto: thinkstock
Malam harinya, aku merasa seperti ada sesuatu di dalam perut yang jatuh. Kala itu, aku dan suamiku hendak tidur. Aku enggak kepikiran untuk mengecek celana dalam. Besok paginya, aku mulai mengalami pendarahan. Bahkan, karena saat itu hari kerja, aku masih berangkat bekerja, dengan memakai pembalut.

Kurasakan darah yang keluar semakin deras. Tapi kemudian berhenti. Lalu, timbul lagi flek darah itu. Sampai saat itu, aku tak memberi tahu ibuku. Sebab, saat itu aku takut dimarahi. Masih diam tak memberi tahu orang tuaku, aku dan suamiku ke dokter. Aku lantas ke dokter dan disebut keguguran. Aku menyesal kenapa selama ini abai sekali sampai tak menyadari adanya tanda keguguran. 

Untuk itu, besok sorenya aku diminta untuk menjalani kuret. Lidahku kelu saat mendengar aku keguguran, ternyata selama ini flek darah yang keluar dan sesuatu yang turun di perutku pada malam itu adalah tanda keguguran. Selama di dokter, aku tak bisa bicara apa-apa. Saat itu, hanya suamiku yang bicara pada dokter. Kebetulan, aku diminta datang keesokan harinya untuk menjalani kuret sekitar jam 13.00 WIB.

Ilustrasi keguguranIlustrasi keguguran/ Foto: thinkstock
Sepulang dari RS, barulah aku memberi tahu ibu dan ayahku soal keguguran ini. Benar saja, ibuku marah-marah. Dia menyalahkanku karena tidak bisa menjaga calon cucunya. Tapi kemudian, ayahku mencoba meredam emosi ibuku. Perlahan, ibuku mulai mengerti.

Orang tuaku pun mencoba menghiburku dan memberi dukungan bahwa ini semua terjadi karena kehendak Allah. Ada memang rasa menyalahkan diri sendiri, tapi sekitar 30 persen. Sebab, 70 persen aku menyalahkan tempatku bekerja. Seandainya jajaran pimpinan mencarikan aku orang pengganti sementara, aku bisa tidak kecapekan dan mungkin saja aku tak akan kehilangan anakku.

Tapi sudahlah, enggak ada gunannya juga aku menyalahkan diriku atau mereka. Aku pun berusaha menenangkan diri, dengan dikelilingi orang-orang terdekatku. Besok harinya, saat akan bersiap ke RS untuk kuret, aku merasa perutku kram parah. Benar-benar melilit sampai aku hanya bisa duduk.

Pelan-pelan, aku berdiri dan menuju kamar mandi karena rasanya seperti ada sesuatu yang akan keluar dari vaginaku. Baru selesai melepas celana dalam, pluk! Ada gumpalan besar berwarna merah mirip hati ayam yang jatuh. Ukurannya dua kali kepalan tangan. Dalam hatiku, seperti inikah bentuk janin 3 bulan yang keguguran?

Ya Allah! Aku panik. Aku berteriak memanggil suamiku dan setelah kami perhatikan, dialah janinku, anakku yang selama kurang lebih tiga bulan ini sudah tumbuh di rahimku, selalu ada bersamaku. Tapi, kini dia sudah keluar dari tempatnya dengan cara yang enggak pernah aku duga sama sekali.

Sambil menahan tangis, aku membersihkan darah yang masih keluar. Kemudian, aku pakai pembalut. Sambil menunggu jam 13.00 WIB, suamiku menguburkan janin itu di samping rumah. Remuk redam perasaanku dalam perjalanan ke rumah sakit. Tak kusangka bayiku hanya bisa bertahan sesingkat ini di kandunganku.

Lagi-lagi, perasaan kesal pada tempatku bekerja muncul sampai akhirnya aku sampai di rumah sakit untuk menjalani kuret. Di rumah sakit, aku ditemani suami, ibu, dan ayahku. Proses kuret berjalan kurang lebih dua jam seingatku. Setelah itu, dokter memberi tahu bahwa masih ada sisa janin yang dimasukkan ke dalam wadah.

Ilustrasi keguguranIlustrasi keguguran/ Foto: iStock
Kecil sekali. Warnanya hitam. Melihat itu, kembali ingat pada anakku yang seharusnya lahir tapi kini sudah pergi mendahuluiku. Tapi lagi-lagi, suamiku yang kupastikan juga merasa terpukul tetap tegar menghadapiku. Orang tuaku, meski sedih dan kecewa tak jadi menyandang status nenek dan kakek, tetap berusaha mengadem-ademi hatiku.

Hanya semalam aku dirawat di rumah sakit. Setelah sampai rumah, aku istirahat. Beberapa tetangga dan kerabat dekat pun menjenguk. Untungnya mereka cukup pengertian, enggak terlalu bertanya detail soal keguguranku. Aku bersyukur mereka tak banyak bertanya.

Keesokan harinya, datanglah rekan kerja dan pimpinanku silih berganti. Sambil mengucapkan bela sungkawa, pimpinanku menawarkan cuti dengan tetap digaji selama aku pemulihan. Tapi, bayangan anakku yang gugur dalam bentuk bongkahan merah saat aku di kamar mandi kembali muncul.

Saat itu, tanpa ragu aku langsung mengatakan terima kasih dan menolak tawaran itu. Akhirnya, mereka bisa menerima keputusanku. Selama masa pemulihan, aku banyak istirahat di rumah. Kemudian, suamiku sering mengajakku pergi atau jalan-jalan. Soalnya, ketika aku sendirian, diri ini lama-lama bengong dan berpikir yang tidak-tidak.

Maka dari itu, selalu ada orang yang menemaniku. Sebab, mereka enggak ingin aku terhanyut dalam suasana dan melakukan hal yang tidak-tidak. Kurang lebih selama enam bulan aku merasakan trauma mendalam. Aku trauma untuk hamil lagi sampai-sampai selama enam bulan itu aku enggak mau berhubungan intim dengan suamiku.

Aku trauma jika hamil lagi dan aku enggak bisa menjaganya, termasuk dari orang-orang yang bisa membahayakannya, bisa-bisa nyawa anakku terancam. Tapi, dengan dorongan suamiku yang selalu bilang bahwa yang diberikan Allah adalah yang terbaik, perlahan aku bisa move on. Aku pun mulai rutin melakukan hubungan intim.

Ilustrasi keguguranIlustrasi keguguran/ Foto: admin
Karena ada riwayat keguguran, aku enggak mau terjadi keguguran berulang. Maka dari itu, aku dan suami berkonsultasi dengan dokter sebelum menjalani program kehamilan. Semuanya aman tapi ternyata setelah tiga tahun aku mencoba tak kunjung hamil juga. Yang kupikirkan kala itu hanya usiaku. Bagaimana kalau aku baru bisa punya anak di usia 40-an? Aduh, aku tak bisa membayangkannya. Akhirnya, aku cek ke dokter.

Ternyata, saat melakukan pemeriksaan, diketahui sel telurku tidak bisa berkembang maksimal. Sedangkan, kualitas spermaku tidak masalah. Aku sempat merasa stres dan merasa bersalah bahwa akulah penyebab sulitnya kami mendapat momongan. Namun, dari situlah aku diberi petunjuk untuk program hamil.

Alhamdulillah, beberapa bulan menjalani terapi, aku dinyatakan positif hamil. Tak ingin kejadian pada anak pertama terulang, aku benar-benar menjaga anakku. Hingga dia lahir dan kini usianya sudah 3 tahun. Memang, kehilangan anak apalagi ketika masih di kandungan bisa membuat kita para ibu terpuruk.

Keguguran juga sempat membuat diriku berubah jadi orang yang menyalahkan orang lain, bukannya meyakinkan diri bahwa ini sudah takdir dari Allah. Dari keguguran yang kualami ada hikmahnya pula yaitu aku tahu masalah reproduksi yang rupanya aku miliki sejak sebelum menikah. Ya itulah hidup. Sesuatu yang amat menyakitkan bagi kita nyatanya membawa sebuah hal yang positif karena itu adalah yang terbaik dari Tuhan.

Dan Tuhan, selalu memberi yang hamba-Nya butuhkan, bukan inginkan.

(Cerita Bunda Lina - Jakarta)



(rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi