sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Pedasnya Mulut Ibu, Tega Bilang Aku Gembrot & Suruh Jaga Badan Saat Hamil

Sahabat HaiBunda Senin, 16 Nov 2020 19:46 WIB
Disuruh jaga badan saat hamil sampai aku takut ambil piring
Young pregnant Asian woman has suffered from headaches sitting on the sofa. Pregnancy symptoms caption

Berat badanku memang naik 14 kg di kehamilan yang pertama. Dari yang awalanya kerempeng aku pun terlihat berisi. Nah, baru turun 10 kg, aku diberi kepercayaan untuk hamil anak kedua.

Hal itu membuat ibuku terus-terusan nyinyir. "Kamu enggak bisa jaga badan dan gembrot baru punya anak satu. Contoh ibu ini, punya anak banyak tetap langsing." Ini hanya salah satu ucapan yang hampir setiap saat diucap ibu di hadapanku.

Lain waktu, ibuku lebih pedas lagi saat memberi nasihat. Bahkan, dengan sadisnya menyinggung kesetian suami tergantung pada tubuh istrinya. "Ingat, suami kamu masih muda, kalau enggak jaga badan, gendut, muka juga enggak dirawat ya mana tahu mereka ngapain di luar rumah."


Mendengar perkataan itu, suami sampai menenangkan aku. Dia mengatakan kalau akan setia meskipun tubuhku berubah tak semolek saat masih pacaran dulu.

Suami terkadang memilih untuk diam, atau cukup berterimaksih karena aku sudah melahirkan dan membesarkan anak dengan baik. Dia juga mengingatkan untuk tak perlu emosi menanggapi ucapan ibu yang memang kadang-kadang keterlaluan.

Ya, aku memang sering sakit hati, karena dalam kondisi hamil pun masih disuruh jaga badan dan penampilan. Bahkan membanding-bandingkan dengan orang secara sengaja.

Parahnya lagi, kalau ibu sedang berkunjung ke rumah, rasanya sampai takut mengambil piring untuk makan. Apalagi sampai mengambil camilan di kulkas atau di meja makan. Ibu pasti akan mengeluarkan ceramah panjang yang bikin telinga memerah.

Huffth kesal! Mau bilang sakit hati rasanya malu, tapi kalau dibiarkan kok rasanya juga makin keterlaluan. Mana sepupu terlihat sangat senang dijadikan contoh. Sampai malas rasanya kalau harus bertemu mereka.

Sindiran demi sindiran terpaksa harus aku telan sendirian. Untungnya, dalam kondisi pandemi seperti ini aku tidak perlu bertemu mereka sering-sering. Sehingga kesehatan mentalku bisa terjaga sampai lahiran nanti.

(Cerita Bunda Vina - Jaksel)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email [email protected] Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

(rap/rap)
HALAMAN :
ARTIKEL SELANJUTNYA
Share yuk, Bun!

Rekomendasi