cerita-bunda

Ya Tuhan! Aku Dibius & Diperkosa Mantan, Baru Tahu Saat Hamil 7 Bulan

Zika Zakiya Rabu, 16 Oct 2019 16:37 WIB
Ya Tuhan! Aku Dibius & Diperkosa Mantan, Baru Tahu Saat Hamil 7 Bulan
Jakarta -

Cerita Bunda hari ini berasal dari seorang Bunda muda, sebut saja namanya A. Dilansir Female Daily, kejadian ini berlangsung empat tahun lalu ketika A masih berumur 17 tahun. Berikut kisah lengkapnya.


"
Mungkin akan ada banyak yang nggak percaya dengan cerita yang akan saya ceritakan, tapi ini yang benar-benar terjadi. Awalnya saya nggak pernah tahu kalau saya hamil. Saya bahkan nggak sadar kalau saya sudah diperkosa. Saya cuma tahu, saat itu di bulan Januari, pola datang bulan saya mulai aneh.

Sekitar 3 bulan hingga bulan Maret saya nggak menstruasi sama sekali. Tapi karena nggak pernah merasa 'tidur' dengan orang lain, saya nggak kepikiran hamil. Akhirnya saya cek ke dokter umum aja untuk diperiksa. Di situ dokter cuma bilang kalau saya kelelahan dan terlalu stres. Berhubung saat itu memang lagi masa-masa UN, saya percaya. Akhirnya saya pulang dengan membawa obat pelancar haid.

Memang sih, setelah minum obat itu, saya tetep nggak datang bulan. Tapi ada flek-flek darah yang mulai keluar, tapi saya nggak anggap itu sebagai sesuatu yang serius."

Lho, memangnya perut kamu nggak kelihatan membesar?

"Kebetulan memang kehamilannya tergolong kehamilan yang kecil, jadi nggak bikin perut terlihat besar. Tapi di satu titik, mama saya memang sempat curiga karena kondisi perut saya aneh. Mama saya pun sama sekali nggak curiga kalau saya hamil. Toh, saat itu saya memang lagi nggak berpacaran atau berhubungan dengan siapapun.

Ilustrasi perkosaanIlustrasi perkosaan/ Foto: Edi Wahyono

Tapi mungkin feeling seorang Ibu ya, dirinya tetap khawatir kalau di perut saya ada tumor atau miom, yang mengganggu kelancaran datang bulan saya. Nggak pakai lama saya langsung di bawa kerumah sakit untuk cek ke dokter. Nah, di sini baru saya di periksa secara detail, sampai ke USG.

Titik saat saya dan Mama saya ada di dokter, ini adalah momen di mana hidup saya berubah selamanya. Setengah nggak percaya waktu dokter bilang ada bayi di perut saya yang sudah berumur 7 bulan. Ya, 7 bulan. Jadi selama 7 bulan saya hamil, saya nggak pernah sadar kalau saya hamil. Memang sih, ada saatnya saya ngidam banget sama sesuatu, tapi nggak pernah kepikiran karena hamil. Ajaib ya?

Waktu diberi tahu dokter saat itu saya nggak bisa nangis karena setengah nggak percaya. Sedangkan Mama saya, dia breakdown saat itu juga. Tapi saya bersyukur Mama saya nggak langsung menuduh saya yang aneh-aneh. Beliau percaya sama saya kalau saya benar-benar nggak pernah dengan sengaja 'tidur' dengan orang. Walaupun sempet breakdown, tapi sebagai seorang Ibu, saya tahu dirinya berusaha untuk tetap tegar di depan saya."

Jadi, siapa pelakunya?

"Pelakunya ternyata adalah mantan saya. Nggak langsung ketahuan memang, ternyata waktu kejadian, saya dibius total sehingga nggak sadar. Modusnya mau balikin payung yang pernah dipinjam sekalian ajak ngobrol-ngobrol. Karena nggak curiga sama sekali dan berhubung saat itu masih sore, akhirnya saya makan bareng dan nggak sadar kalau makanan saya sudah diberikan obat tidur.

Setelah makan, saya naik mobilnya dan langsung ketiduran. Kalau diingat-ingat, waktu turun dari mobil dan sampai di rumah, saya memang melihat ada bercak darah yang keluar. Tapi saya nggak nyangka kalau itu adalah selaput darah, saya kira itu tanda-tanda saya mau haid. Pelaku akhirnya mengaku setelah 7 bulan setelah kejadian, ketika didesak untuk mengaku."

Menurutmu, apa hal terberat yang harus kamu hadapi setelah mengetahui?

"Awalnya, hal yang paling berat adalah menerima kenyataan dan mencoba mengampuni. Setelah dapat berita kehamilan saya, sekitar 2 minggu saya merasa ada di awang-awang, nggak percaya dengan yang terjadi. Belum lagi cibiran dari orang-orang di sekitar yang nggak mengerti dengan kondisi saya.

Ilustrasi perkosaanIlustrasi perkosaan/ Foto: Edi Wahyono

Beberapa nggak percaya dan bilang saya bohong. Saya juga sudah berada di ujung ambang depresi saat itu. Setiap malam saya cuma bisa menangis, merasa masa depan saya sudah hancur. Biasanya yang paling menghantui saya juga adalah perasaan bersalah yang mendalam.

Saya merasa bersalah karena sudah merepotkan keluarga saya. Kami sekeluarga langsung pindah rumah waktu itu karena harus menjauh dari lingkungan sekitar. Waktu pindah pun, nggak sedikit yang ngomongin.

Tapi untung banyak juga yang support dan membantu. Saya juga ada pernah dititik kalau saya nggak ada, mungkin keluarga saya akan lebih bahagia dan nggak direpotin karena saya. Berat juga karena saya nggak bisa menjalani kehidupan seperti teman-teman saya yang lain."

Apa yang membuat kamu bertahan?


Ilustrasi depresiIlustrasi depresi/ Foto: Thinkstock

"Empat tahun berlalu setelah saya mengalami kejadian tersebut. Saat itu yang buat saya bertahan adalah keluarga saya yang selalu support saya. Saya juga punya beberapa teman yang tahu tentang hal ini dan mereka masih dengan tulus mengasihi saya.

Di waktu masa-masa terberat saya, setiap malam saya hanya berdoa dan menangis, didampingi dengan ibu saya yang juga ikut menangis dan turut mendoakan bayi saya. Hal ini yang membuat semua pikiran-pikiran negatif dalam benak saya hilang, karena ada Tuhan dan support system di sekitar saya.

Sekarang anak saya sudah berumur empat tahun. Setelah masa-masa berat itu lewat, sekarang kalau liat anak ini saya malah bersyukur dengan kehadirannya di bumi yang membawa sukacita bagi keluarga. Agak ajaib sebetulnya anak ini bisa lahir dalam kondisi sehat, padahal keberadaannya selama 7 bulan tidak disadari. Tapi sekarang saya percaya anak ini adalah berkat Tuhan."

Pesan apa yang kamu ingin sampaikan buat para perempuan yang mengalami hal serupa?

"Buat kamu yang mungkin mengalami hal yang sama, ini ada beberapa tips yang bisa saya sampaikan. Pertama, berusahalah memaafkan diri sendiri. It's not your fault, nggak ada yang bermasalah dengan diri kamu.

Semua sudah terjadi di masa lalu, sekarang saatnya kamu melangkah. Ingat kalau cobaan yang kamu hadapi, nggak akan pernah lebih dari kekuatanmu.

Kedua, nggak usah berekspektasi semua orang akan mengerti dengan masalah yang kamu alami. Akan selalu ada orang-orang yang berkomentar negatif, dan akan jadi hal terbodoh yang kita lakukan kalau kita berusaha membuat semua orang mengerti dan nggak ngomong hal buruk tentang kita. Kamu cukup memiliki 1 atau 2 orang saja yang kamu percaya untuk kamu cerita, dan jangan lupa berdoa sama Tuhan agar kamu diberi kekuatan.

Ketiga, kasihilah anak itu dengan segenap hati. Kamu nggak perlu berhubungan lagi dengan pihak pelaku, tapi setidaknya cobalah berdamai dengan dirimu sendiri . Kalau kamu belajar memahami kalau segala sesuatu terjadi demi mendatangkan kebaikan, kamu akan punya perspektif yang berbeda. Saya tahu memang butuh proses, tapi itu yang saya alami ketika saya akhirnya sangat bersyukur punya anak ini."

(Kisah Bunda A, Jakarta)


Bunda yang mau berbagi cerita kisah hidupnya seperti ini, bisa berbagi dengan kami melalui email di redaksi@haibunda.com. Bunda dengan cerita paling menarik dan menyentuh akan mendapat hadiah voucher belanja. Eits, sebelum menulis cerita menarik untuk kami, simak dulu yuk video mengenai kehamilan ektopik berikut.

[Gambas:Video Haibunda]

Bunda juga bisa simak kisah inspiratif perempuan Indonesia yang berkarier sebagai artis di Korea, Yannie Kim. Baca berita selengkapnya di sini.

(ziz/ziz)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi